SELAMAT DATANG DI BLOG INI

akhirnya kita berpisah

BIAR SUDAH
Tuhan mengapa pahitnya hidup seperti ini
harus aku yang lalui"

Apa maksud di balik semua ini"
bukannya Engkau tau keterbatasan setiap manusia

Harapan akan sebuah Keceriaan
Seakan akan jauh meniggalkanku

Impian hidup yang dulu ku miliki
kini telah pudar dariku

Biar sudah derita hidup ini kulalui
mungkin ini garis hidupku"By.Chados.Sangkek
====

TAK KU SANGKA
Malam ini aku sendiri
merenunggi nasipku kini

Kini kau telah pergi dari hidupku
seakan aku bermimpi

Tak ku sangka ,tiada kuduga'
akhirnya kita berpisah

Teganya dirimu
meninggalka diriku sendiri

Sensara tiada yang melihat
Menanggis tiada yang tau lagi

Mengapa realita ini  ada
mengapa pula terjadi padaku diriku

Di saat aku tak berdaya
kau malah pergi dan tak kembali
Skendi 2015  By.Chados.Sangkek

yang kliru ini saya atau mereka


Saya punya negeri itu  matahari terbit
saya punya negeri itu yang ada susu dan madu

Lalu kenapa pembangunan itu tidak berawal dari saya punya negeri
yang kliru ini saya atau mereka

Lebih aneh lagi
Aturan dan kebijakan mereka yang buat
Trus diterapkan sampai di saya punya negeri

Apa kaitang saya dengan mereka
secara kultur ,budaya,bahasa adat,ras kita sudah beda

Masa saya harus berlama-lama berjalan dengan wajah mereka
dan diam dalam penjara yang mereka sudah buat sejak dahulu kala
dan membiarkan mereka diam-diam ambil saya punya harta
Yanga ada di atas tanah sampai di dasar laut "

Bertanya….jika Tuhan hadir menyalamatkan Bangsa Yahudi
Kenapa Dia tidak hadir untuk kasih saya punya KERINDUAN
yang selama ini saya bicara  ka.     Skendi.07-19-2016

sebuah pensil.

Seorang anak bertanya kepada neneknya yang sedang menulis sebuah surat.

"Nenek lagi menulis tentang pengalaman kita ya? atau tentang aku?"


Mendengar pertanyaan si cucu, sang nenek berhenti menulis dan berkata kepada cucunya,

"Sebenarnya nenek sedang menulis tentang kamu, tapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini yaitu pensil yang nenek pakai".

"Nenek harap kamu bakal seperti pensil ini ketika kamu besar nanti" ujar si nenek lagi.


Mendengar jawab ini, si cucu kemudian melihat pensilnya dan bertanya kembali kepada si nenek ketika dia melihat tidak ada yang istimewa dari pensil yang nenek pakai.


"Tapi nek, sepertinya pensil itu sama saja dengan pensil yang lainnya." Ujar si cucu


Si nenek kemudian menjawab, "Itu semua tergantung bagaimana kamu melihat pensil ini."

"Pensil ini mempunyai 5 kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup, kalau kamu selalu memegang prinsip-prinsip itu di dalam hidup ini."

Si nenek kemudian menjelaskan 5 kualitas dari sebuah pensil.


Kualitas pertama, pensil mengingatkan kamu kalo kamu bisa berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kamu dalam hidup ini. Kita menyebutnya tangan Tuhan, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya.


Kualitas kedua, dalam proses menulis, nenek kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil nenek. Rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kamu, dalam hidup ini kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik.


Kualitas ketiga, pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar.


Kualitas keempat, bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil. Oleh sebab itu, selalulah hati-hati dan menyadari hal-hal di dalam dirimu.


Kualitas kelima, adalah sebuah pensil selalu meninggalkan tanda atau goresan. Seperti juga kamu, kamu harus sadar kalau apapun yang kamu perbuat dalam hidup ini akan meninggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah hati-hati dan sadar terhadap semua tindakan.

MODAL MEMECAH BATU USAHA WARNET CHADOS NET DI RILIS

Berawal dari sebuah mimpi dan tekad yang kuat serta didorong oleh semangat yang tinggi hingga apa yang selama ini saya impikan, itu berlahan-lahan mulai terwujud. Dengan sedikit modal yang terkumpul dari hasil kerja keras yang selama ini saya lalui adalah  memecah batu, impian akan ku rilis ialah usaha warung internet (warnet). Uang  yang saya dapatkan dari berjualan batu  belahan-lahan saya mulai membeli beberapa peralatan pendukung usaha warnet .
Setelah semua peralatan yang saya butuhkan lengkap, maka saya mulai merangkai satu persatu komponen komputer yang saya belikan dan bermodal kesing rusak yang saya ambil dari tempat besi tua untuk di jadikan CPU sebagai fasilitas utama dalam usaha warnet yang selama  3 ( tiga ) tahun di impikan itu. Sebenar usaha warnet di dataran pulau papua agak tabu bagi kami orang asli papua ( OAP ), karna IPTEK yang bergerak di bidang usaha yang terhubung langsung dengan jaringan kami tidak begitu paham. Karna Jika kita ingin usaha warnet ini banyak hal yang akan menhambat proses usaha warnet ,bagaimana tidak kita akan berpikir mulai dari pengetahuan tengtan penguasaan jaringan dan merakit komputer trus lokasi  mendirikan bangunan dan pelaralatan komponen komputer lainnya . tapi semua itu tidak menjadi beban bagi kita yang  punya niat dan tujuan untuk mendirikan usaha ini ,maka apapun akan kita kerjakan untuk mendapatkan modal yang cukup dalam mendirikan sebuah usaha seperti warnet.
Pada tanggal 23 april 2016 saya berhasil membuka usaha warnet dengan bernamakan CHADOS NET di kabupaten sorong selatan, papua barat. Walau dalam proses berjalannya usaha ini banyak hal dan fasilitas yang kurang tapi saya tetap bersyukur karna telah membuktikan apa yang selama ini tertanam dalam lubuk hati. Usaha warnet ini banyak kritik yang tidak membangun dan ada kritik yang bersifak membangun tapi tak ada ujung dari sang pemberi masukan yang positif itu. Saya selalu sportif Karna yang ada dalam pemikiran bahwa usaha warnet ini belum ada orang asli papua yang terkenal ,minimal ia menjadi hebat sebagai pengusaha warnet di jakat raya ini. ada pegusaha orang asli papua sukses tapi tidak di bidang jaringan (warnet ) hal ini yang menjadi motivasi saya selama 3 tahun memecah batu untuk mendirikan usaha ini. Semoga Tuhan selalu menyertai usaha ini dengan mempermudah saya untuk mendapatkan modal dari berbagai sisi untuk mendobrak usaha warnet. 

Mahasiswa Papua di Yogyakarta Minta Penyelesaian Secara Adat

ANGGOTA TNI DIANIAYA: Mahasiswa Papua di Yogyakarta Minta Penyelesaian Adat

  YOGYAKARTA — Kasus penganiayaan terhadap anggota TNI di Yogyakarta mendorong puluhan mahasiswa Papua mendatangi Makorem 072.

Mereka datang ke Markas Komando Korem 072 Pamungkas Yogyakarta itu untuk meminta agar kasus penganiayaan terhadap dua anggota TNI yang dilakukan mahasiswa bisa diselesaikan secara adat.
Mhs di Korem - Doc By PH

“Kami datang ke sini dengan itikad baik, yaitu meminta maaf kepada korban, dan meminta agar kasus ini dapat diselesaikan secara adat Papua,” kata Koordinator Mahasiswa Papua Leczhy Degei, Rabu (15/5).
Leczhy bahkan menegaskan pihaknya bersedia membayar biaya pengobatan korban, dan mengganti kaca minimarket yang pecah akibat insiden terkait penganiayaan itu.
Insiden tersebut terjadi di sebuah minimarket di Jalan Seturan, Babarsari, Kabupaten Sleman, pada Minggu (5/5) lalu.
Empat mahasiswa Papua diduga melakukan penganiayaan terhadap dua anggota TNI, setelah para mahasiswa itu ditegur karena tidak membayar belanjaan yang dibeli.
Kepolisian kemudian menahan empat mahasiswa itu atas kejadian tersebut.
Agar kasus ini bisa diselesaikan secara adat Papua, mahasiwa meminta Komandan Korem 072 Pamungkas Yogyakarta Brigjen TNI Adi Widjaya mencabut laporannya, sebelum dinyatakan P21.
“Mahasiswa yang ditahan tersebut kini terganggu aktivitas kuliahnya. Satu di antaranya bahkan akan mengikuti wisuda pada 1 Juni mendatang. Kami ini murni mahasiswa, bukan preman,” kata Leczhy.
Namun demikian, upaya mahasiswa untuk bertemu dengan Komandan Korem 072 Pamungkas gagal, karena Brigjen TNI Adi Widjaya sedang berada di luar daerah untuk urusan dinas.
Sementara itu, Perwira Hukum Korem 072 Pamungkas Mayor Munadi yang menemui sejumlah mahasiswa tersebut mengatakan Danrem sedang bertugas di Kebumen, dan baru ada di kantor pada Kamis (16/5).
“Jika ingin menemui beliau, silakan ke Kebumen. Beliau baru ada di kantor pada Kamis (16/5). Jika ingin menunggu, dipersilakan saja,” katanya. (Antara/sae)

Sumber : Kabar24

Jeritan dari Papua

PAPUA memang jauh dari Jakarta. Papua ada di ujung timur Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sedangkan Jakarta adalah pusat dari seluruh aktivitas politik, bisnis, dan pemerintahan di negeri ini. Lebih dari 60 persen uang yang beredar di Indonesia ada diJakarta. Bagaimana dengan Papua? Entahlah. Yang pasti, jumlahnya jauh lebih kecil dari yang ada di ibu kota.

Kesenjangan ekonomi antara Papua dan wilayah lain di Indonesia juga sangat besar. Ketika banyak orang di Jakarta menikmati lezatnya aneka makanan, saudara kita nun jauh di Papua masih saja kesulitan mengisi perut. Kita pun terhenyak ketika ada kabar puluhan warga yang mayoritas anak-anak meninggal karena busung lapar dan gizi buruk di Distrik Kwor, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat.

Jumlah korban meninggal memang simpang siur. Laporan sebuah lembaga swadaya masyarakat me­nyebutkan, ada 95 orang yang meninggal. Jumlah tersebut adalah akumulasi kejadian mulai Oktober 2012 sampai Maret 2013. Di sisi lain, pemerintah daerah membantah. Versi mereka, korban meninggal tidak sebesar yang digembar-gemborkan media. Apa pun dalihnya, yang pasti ada jiwa yang melayang akibat serangan busung lapar dan gizi buruk.

Bencana di Distrik Kwor, Tambrauw, memang bukan yang pertama di Papua. Peristiwa serupa yang tak kalah menggemparkan terjadi di pedalaman Yahukimo pada 2005. Saat itu 55 orang dikabarkan meninggal karena serangan busung lapar. Sulitnya medan menjadi salah satu alasan tidak mudah mengatasi masalah kelaparan di Yahukimo.

Wilayah hasil pemekaran Kabupaten Jayawijaya itu berada pada ketinggian lebih dari 2.500 di atas permukaan laut. Distribusi bantuan hanya bisa diberikan lewat pesawat udara atau helikopter. Kondisi serupa terjadi di Tambrauw sekarang. Kabupaten tersebut belum genap berusia lima tahun. Tambrauw adalah hasil pemekaran dari Kabupaten Manokwari dan Sorong. Butuh sekitar enam jam perjalanan darat dari Sorong untuk mencapai Tambrauw. Lewat laut juga bisa. Tetapi, waktu tempuhnya lebih lama. Itu baru Tambrauw.

Untuk menuju Distrik Kwor, butuh perjuangan lebih. Wilayah yang kini diserang bencana kelaparan itu harus dicapai dengan jalan kaki 3–4 jam lagi.

Fasilitas kesehatan di Tambrauw sangat mem­prihatinkan. Memang ada beberapa puskesmas pem­bantu. Masalahnya, jarang ada tenaga medis yang stand by. Ada cerita warga empat hari berjalan menuju puskesmas. Begitu ketemu, eh tidak dokter yang bertugas. Melihat kondisi tersebut, wajar bila kasus kelaparan di Tambrauw berlarutlarut tanpa penanganan. Korban demi korban pun berjatuhan.

Berkaca pada peristiwa di Yahukimo, apa yang sekarang terjadi di Tambrauw seharusnya bisa dian­tisipasi. Pemerintah wajib melakukan langkah taktis untuk mengatasi masalah gizi buruk. Medan di pedalaman

Papua memang begitu berat dan tidak mudah untuk ditaklukkan. Namun, itu seharusnya tidak menjadi pembenaran untuk membiarkan kelaparan terus meng­gerogoti warga di sana. Kalau pemerintah daerah tidak mampu, pemerintah pusat harus turun tangan. Se­ce­patnya! (*)Padang Ekspres


PROSES PENDIDIKAN DI KALANGAN MAYBRAT


Sejak pendidikan menjadi komoditas perdagangan dan lembaga pendidikan beralih fungsi dari sosial menjadi komersial, pendidikan—apalagi yang bermutu—semakin jauh dari kelompok miskin. Kian mahalnya biaya pendidikan membuat keluarga miskin sering harus menyerah betapapun berprestasinya anak-anak mereka. Bahkan sekadar bermimpi menyekolahkan anak sampai setingkat SMA saja, mereka tak berani lagi.

 Ada anak lulusan SMP yang berprestasi—bahkan pernah mengikuti olimpiade sains di daerahnya—terpaksa menjadi TKI. Ada lagi anak yang nekat mengikuti tes dan diterima di perguruan tinggi negeri, akhirnya mengundurkan diri. Alasannya sama, tak ada lagi biaya. Di negeri ini ternyata tengah berlangsung proses pemiskinan yang jauh lebih buruk dari yang kita bayangkan. Dulu masih terbuka peluang bagi anak-anak keluarga miskin untuk mewujudkan mimpi. Tidak heran kalau dulu banyak mobilisasi vertikal lewat pendidikan. Sekarang, biaya jadi kendala utama. Fenomena tidak biasa terkait kemiskinan dan akses atas pendidikan kami temukan di pedalaman Papua, tepatnya di Kabupaten Maybrat.

Di kalangan masyarakat Papua, Maybrat dikenal sebagai daerah yang warganya banyak menjadi sarjana. Bahkan tidak sedikit pejabat tinggi di kabupaten lain di Papua berasal dari Maybrat. Padahal, kondisi warga Maybrat sama miskinnya dengan warga di kabupaten lain. Namun, masyarakat Maybrat bersemangat tinggi untuk memperoleh pendidikan.

Apa yang membedakan Maybrat dengan masyarakat lain di Papua? Pertanyaan ini muncul ketika mendata keluarga miskin di kampung-kampung. Ternyata banyak yang anak-anaknya sampai ke jenjang perguruan tinggi. Tidak sedikit anak dari keluarga miskin di daerah ini mampu menyelesaikan pendidikan tinggi.
Bahkan, banyak pula yang menempuh pendidikan tinggi di Jawa. Jawaban kami temukan dalam diskusi bersama komunitas-komunitas kampung di Kabupaten Maybrat. Meski berbeda kadarnya, ada semacam spirit gotong royong yang berlaku umum dan dipelihara oleh masyarakat kampung di Maybrat. Spirit ini dalam bahasa setempat disebut ANU BETA TUBAT, yang artinya bersama kami mengangkat. Spirit yang menyatukan Spirit anu beta tubat menyatukan masyarakat Maybrat untuk memprioritaskan pendidikan. Ibarat lidi yang bila disatukan sulit dipatahkan, demikian pula kekuatan spirit ANU BETA TUBAT bagi keluarga-keluarga miskin di Maybrat.

Betapa pun miskinnya, mereka tidak menyerah dalam memperjuangkan pendidikan anak-anak mereka. Berbagai hambatan diatasi bersama. Spirit ANU BETA TUBAT semakin menguat setelah masyarakat memetik dan merasakan buahnya. Melihat perubahan positif pada karakter anak-anak mereka yang mendapatkan pendidikan, para orangtua tidak ragu lagi mengirim anak ke sekolah. Melihat anak-anak yang berpendidikan mudah memperoleh pekerjaan, masyarakat berlomba menyekolahkan anak-anaknya. Mereka bergotong royong dan berjibaku bersama membiayai pendidikan anak. Dulu untuk mengirimkan anak ke sekolah saja para orangtua harus didorong-dorong. Kini, pendidikan mereka tempatkan sebagai prioritas dan spirit ANU BETA TUBAT menjadi kekuatan untuk mengatasi berbagai hambatan. Spirit gotong royong untuk pendidikan itu bisa ditemukan di kampung-kampung untuk berbagai tingkatan pendidikan.

Di tingkat sekolah dasar, spirit itu mewujud dalam upaya masyarakat menjaga keberlangsungan pendidikan di kampung mereka. Untuk membuat guru betah mengajar di kampung, di antaranya mereka bergotong royong membuatkan kebun, membangun tempat tinggal, dan menyokong bahan makanan bagi guru yang baru ditempatkan di kampung mereka. Masyarakat juga bergotong royong membangun atau memperbaiki bangunan sekolah, membantu pengadaan mebel, membayar gaji guru honorer, membeli buku-buku pelajaran, dan membantu membiayai ujian. Untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat lebih tinggi, baik SMP atau SMA, kebanyakan anak di Maybrat harus keluar dari kampungnya dan bersekolah di kota kecamatan, di kota kabupaten atau di kota provinsi. Mereka tinggal di asrama atau menumpang pada keluarga-keluarga di kota.

 Baru tingkat SMP saja orangtua sudah harus mengirimkan uang tunai setiap bulan. Padahal, penghasilan mereka sebagai petani tidaklah menentu. Untuk menghemat biaya, masyarakat kampung membangun asrama atau rumah tinggal bersama bagi anak-anak yang bersekolah di kota. Salah satu atau beberapa warga ditunjuk untuk mengurus asrama dan mengawasi anak-anak dalam belajar. Sistem ”asrama” atau ”rumah tinggal bersama” ini sangat membantu para orangtua yang tidak memiliki keluarga di kota. Pada tingkat perguruan tinggi, anu beta tubat diwujudkan dalam bentuk dukungan untuk meringankan beban biaya pendidikan. Orangtua biasanya menanggung biaya bersekolah di SMP dan SMA, sementara biaya hidup anak selama belajar di kota dibantu oleh masyarakat kampung atau keluarga di kota. Dukungan keluarga besar Bentuk dukungan masyarakat kampung bagi keluarga yang anaknya menempuh pendidikan tinggi bermacam-macam. Ada yang bergotong royong menanggung biaya pendaftaran, pembelian sarana-prasarana, membayari biaya skripsi, biaya wisuda, dan lainnya. Dukungan paling besar datang dari keluarga besar orangtua masing-masing. Anak-anak yang berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi akan menjadi kekuatan dan modal bagi masyarakat kampung dalam menjalankan dan memperkuat spirit anu beta tubat. Mereka punya tanggung jawab lebih dalam mengangkat anak-anak lain.

Kalau tanggung jawab itu tidak mereka jalankan, masyarakat akan menempatkan mereka dalam barisan yang tidak berguna. SPIRIT ANU BETA TUBAT memberi inspirasi tentang bagaimana kemiskinan dan lemahnya akses kaum miskin atas pendidikan dapat diatasi. Pada saat negara tidak lagi menempatkan pendidikan sebagai hak asasi—sehingga pemerintah kurang serius dalam menjalankan komitmen untuk mewujudkan pendidikan bagi semua—masyarakat dapat bahu- membahu mengembalikan pendidikan sebagai prioritas. Saat negara kehilangan daya dalam memenuhi hak warga atas pendidikan, masyarakat dapat berjibaku untuk secara bersama mencerdaskan kehidupan bangsa. Kehidupan bangsa yang cerdas tidak akan dapat dicapai selama kaum miskin masih sulit mengakses pendidikan. Kami membayangkan banyaknya kemajuan yang bisa kita capai sebagai bangsa seandainya satu warga yang mampu secara ekonomi berkomitmen menyekolahkan satu anak keluarga miskin. Kami yakin, sumber daya warga yang terbatas apabila disatukan akan menjadi kekuatan yang dapat mengembalikan bangsa ini sebagai bangsa yang punya masa depan. Masyarakat Maybrat di Papua Barat telah membuktikannya.By.Chados.sangkek

Followers