Advertise here

Kejadian Pembokaran Rumah di Kampung Skendi Kabupaten Sorong Selatan

CHADOS-SANGKEK     Senin, November 25, 2019    
Lokasi rumah Kampung Skendi Kabupaten Sorong yang berbatu batu sudah menjadi luas dan indah itu, tidak terlepas dari proses yang tak mudah. Menjadi pribadi yang rendah hati dan pandai mengucap syukur ,Karena segala kekuatan dan inovasi  adalah berasal dari Tuhan untuk kita. Oleh sebab itu memperbaiki diri kita jauh lebih baik dan sangat berharga dari pada mengurusi hidup orang lain .

Hal di atas mengambarkan tak rasionalnya watak dan pola pikir seorang wanita yang tak ada hujan dan tak ada angin tiba tiba badai datang.  Bagaimana tidak sudah lima tahun saya tidak punya hubungan apapun dengan seorang wanita  ini.

Tapi entah mengapa di tanggal 16 November 2019 , wanita ini dengan beberapa saudaranya datang dan melakukan pembokaran rumah papan yang di buat oleh saya di tahun 2012 silam. Saya lebih dulu ada di rumah Skendi ini hanya diam dan menyaksikan aksi yang di lakukan oleh mereka .

Saya diam bukan tidak bisa berdebat dengan mereka , Tapi terlihat jelas kebodohan mereka. Bagaimana tidak wanita itu sudah berhasil memprofogandakan bahasa untuk beberapa keluarganya agar membenci dan selalu marah terhadap diriku. Padahal keluarganya tidak melihat latar atau kepribadian wanita ini yang sesungguhnya.

Ada bebera poin yang wanita ini selalu memprofokasi bahasa untuk keluarganya. Dari beberapa poin yang sering saya dengar , ini tidak mempunyai dasar yang kuat. Bagaimana tidak dasar persoalan yang sesungguhnya tidak berani diungkap oleh wanita yang  terlihat sudah menjadi orang asing di negerinya sendiri.

Di tahun 2011 awal saya hadir di kota teminabuan dengan hanya sepasang pakian. Kisah mulanya saya dari kota Jogjakarta tiba di fakfak di tahun 2011. wanita ini mengetahui bahwa saya telah ada di kota fakfak, maka iapun mengikuti kapal laut ngapulu tujuan kota fakfak. Hanya  4 hari wanita ini pulang kembali ke sorong dengan mengunakan kapal laut tatamalau.

Saya yang bertujuan untuk mengantarnya sebatas pelabuhan fakfak. Saat KM tatamalau mau bertolak menuju kota sorong .  Wanita ini terlihat tak berdaya di atas KM tatamalau dengan berbagai trik dan gayanya. Sehingga sayapun berangkat dengan selembar pakian tujuan sorong bersamanya.

KM tatamalau  sandar di pelabuhan sorong jam 3 subuh 2011, wanita  ini langsung ke mama adenya yang tinggal di Maladu pasir sementara saya hanya berkeliaran di pelabuhan sorong sampai pagi hari.

Di jam 8.00 pagi 2011 wanita ini menelponku dan berkata bertemu di pasar remu kota sorong. Setibanya saya di pasar remu wanita ini membeli dua buah celana dan selembar pakian dan berkata kamu ikut saya ke sorong selatan.  Jam 4 .00 sore 2011,  awal saya sampai di kota teminabuan. Keesokan harinya jam 10.00 pagi keluarga dari wanita ini datang dan berkata kepada saya dalam forum yang di buat terstruktur di pagi itu, bahasanya karna kamu sudah datang masuk di rumah, maka harus membayar uang minang ( uang pintu ).

Seminggu berselam saya kembali ke fakfak dan malakukan berbagai cara untuk memdapatkan uang minang ( uang pintu ) yang di bilang itu. Upaya saya di fakfak berhasil akhirnya , Saya bersama ibu  saya , kita kembali ke sorong selatan dengan membawah uang minang 10.juta dan kain 20 timur dan 5 piring gantung.

Setelah menyerahkan uang minang itu, ibu saya hanya dindon di belakang mobil tujuan kota sorong dan langsung ke kota fakfak. Saya yang mengantar ibu saya sampai di pelabuhan sorong dan wanita ini menelpon saya dan berkata kamu harus kembali ke sorong selatan.

Seminggu,sebulan setelah proses peminangan, baru saya berlahan tau latar dan kepribadian wanita yang di kenal pelakor sejati ini. Ternyata di tahun 2011 itu dia telah pergi rebut dengan suaminya orang lataran cintanya yang di gantung begitu.

Saya yang sudah mengetahuinya ini hanya bisa diam dan bingung mau lakukan apa sering marah dan bertanya orang sebaik saya harus terjebak oleh sandiwara sang pelakor sejati ini. Berbagai cara saya ingin pergi tapi entah ke kota mana, binggun jadinya. Di tahun 2012 saya kembali rebut dengan mamanya lantaran wanita pelakor ini yang awalnya ke sorong tapi setelah di sorong, dia menelpon saya dan berkata dia mau ke Jakarta jadi kirim beberapa pakiannya di mobil.

Ketika saya ke terminal kajase  untuk menitip tas pakian tapi karna penumpang belum ada dan sopir dari mobil yang saya mau titip tas pakian , berkata kamu pulang saja nanti di telpon. Ketika saya ke rumah sang pelakor ini,  saya di rebut oleh mamanya.’ Sehingga keributanpun pecah dan saya langsung berangkat juga ke sorong. Di sorong saya tinggal dengan keluarga saya. Sebulan lebih saya di sorong.

Wanita pelakor ini yang sudah kembali dari Jakarta kembali menelpon saya dan berkata bahwa mereka lagi rebut dengan keluarganya hingga saling usir dari kampung yang mereka tinggal ini, Diapun menharapkan saya harus kembali ke sorong selatan. Saya kembali ke teminabuan tapi bukan lagi tinggal di rumahnya tapi saya tinggal di kampung sungguer. Dari kampung sungguer saya langsung ke kampung skendi tempat lokasi baru yang akan kita buat rumah ini.
Lokasi rumah di kampung skendi yang berbatu batu dan , berlahan saya toki batu dan bermodal tinggal di klawata ( goa batu ) maka rumah di kampung skendipun jadi.  Selama saya tinngal di kampung skendi 2012 wanita ini masih berselingkuh dengan suami orang. Kemanisan selingkuh berbuah hasil. Wanita pelakor ini mendapatkan anak dari hasil selingkuhnya ( OPB )
Sudah dua kali di tahun 2019 saya harus kembali berurusan dengan sang pelakor sejati ini. Anehnya kenapa keluarga bahkan pelakor ini tidak pergi rebut dengan laki laki yang memberinya anak .

Buta nurani, buta mata dan telinganya sehingga mereka tak melihat dasar persoalan yang sebenarnya’. mungkin sang pelakor ini harus berkata jujur akan keberadaan hidupnya sebelum mengenal diriku, sesudah hidup bersamaku dan setelah ia pergi.
Kehadiranku di kota 1001 sunggai ini juga berawal dari pertemuan saya dengan seorang wanita yang berlagak anak pendeta di awal pertemuan padalahal ia adalah seorang pelakor sejati yang kini merasa Lugu dan dilema setelah di tinggalkan juga oleh OPB ( Orang Punya Bapa ) dengan seorang anak tak berdosa.

Terima kasih masalah; karenamu aku menjadi pribadi yang lebih kuat dalam kerasnya kehidupan .Semoga Tuhan akan memberikan orang yang ‘tepat’ untuk hati yang hebat. SebabTuhan maha tau melebihi mereka yang sok tau. Pada suatu hari pasti kita akan membutuhkan bantuan orang lain, maka berbuat baiklah kepada sesama selama kita mampu, dan jangan menhakimi jika kamu tak ingin di hakimi. Dan jangan bermain apa jika kamu tak ingin terbakar. CS

CIPRIW YANG MALANG (Terjadinya Pohon Kelapa)

Admin     Rabu, November 06, 2019    
Diceritakan kembali oleh Eulis Anggia Budiati

Pada zaman dahulu, di sebuah kampung yang terletak dihilir Sungai Fait, dari Pantai Safan, daerah Asmat, hiduplah sepasang suami istri yang berbahagia. Sang suami bemama Biwiripit, sedangkan istrinya bemama Teweraut. Mereka memiliki seorang anak yang sangat dikasihi dan dicintai bemama Cipriw. Cipriw adalah anak tunggal sehingga ia sangat dimanja. Sayangnya ia sangat penakut. Sifat penakut Cipriw inilah yang menggoreskan kisah tragis yang dalam.
Pada suatu hari yang cerah, mereka bertiga duduk-duduk dekat tungku sambil membakar sagu dan daging kasuari hasil buruan Biwiripit. "Cipriw, kau · anak laki-lakiku satu-satunya, kau tra boleh penakut. Kau sudah besar, kau harus mengganti bapak menjaga mama, menjaga kampung, dan kau juga harus menjadi pemburu yang tangguh di kampung ini." Begitulah Biwiripit menasihati Cipriw.

"Cipriw 'kan masih kecil. Jadi, ia masih penakut tra apa-apa." Tiba -tiba Teweraut membela. Cipriw hanya diam saja sambil tidur-tiduran di pangkuan ibunya.
"Cipriw sudah besar. Dulu aku sebesar itu sudah belajar berburu, membuat panah sendiri, belajar mengukir patung, dan aku disuruh tidur di rumah jevl dengan bapak.
Jangan kau terus bermanja-manja dengan ibumu!" Biwiripit menasihati lagi.
"Biarlah untuk beberapa hari lagi. Cipriw belum.tukup besar untuk tidur di jew." Kembali Teweraut menjawab.
"Itulah, kau selalu membelanya. Maka dari itu Cipriw penakut terus." Biwiripit agak marah. Kemudian ia meninggalkan istri dan anaknya untuk tidur di jew .
.. ~ .. t" .
Hari mufai malam. Para lelaki dewasa di kampung ini selalu berkumpul di jew. Istri-istri, anak-anak perempuan, dan anak laki-laki mereka yang masih kecil tidur di rumah mereka masing-masing. Cipriw si penakut selalu tidur dekat ibunya membungkus diri dengan tapin7

Rumah tinggal mereka cukup jauh dari jew. Di antara jew dan rumah tinggal mereka tumbuhlah sebatang pohon ucuwB. Semua penduduk kampung sangat yakin bahwa di dalam pohon ucuw tinggallah sepasang roh yang baik. Mengapa mereka menganggapnya baik? Dianggap baik karena roh tersebut tidak pemah mengganggu penduduk kampung. Bahkan, roh di pohon ucuw tersebut sering memberi pertolongan pada seisi kampung. Apalagi jika penduduk kampung ada yang meminta sesuatu, maka sudah pasti roh di pohon ucuw akan mengabulkan permintaan tersebut. Meskipun demikian, Cipriw, anak tunggal Biwiripit dan Teweraut, sangat takut kepada roh baik yang ada di pohon ucuw itu. Setiap kali hendak masuk ke dalam jew, Cipriw selalu berlari dari rumah kemudian masuk ke dalam tapin. Hal ini terjadi, baik pada waktu pagi hari maupun siang hari, terlebih pada waktu malam hari.
"Tewe, mulai besok anak kita harus tidur di jew.
Kamu tidak boleh melarangnya. Kalau kamu menahannya terus, artinya kamu melanggar adat. Kamu tahu 'kan akibatnya kalau kita melanggar adat?" kata Biwiripit tegas.
"Aku tahu, tapi anak kita ini sangat penakut. Apalagi kalau harus melewati pohon ucuw di depan jew itu," kata Teweraut.
"Justru karena penakut itulah dia harus belajar menjadi pemberani. Di jew anak kita akan mendapat pelajaran dari tua-tua adat supaya menjadi pemuda yang gagah berani. Aku malu jika punya anak penakut." kata Biwiripit menambahkan lagi.
"Yah, terserah kamulah." Teweraut akhimya mengalah.
•Nanti malam aku akan ajak Clpriw tidur di jew.
Awas, kamu tidak boleh menghalang-halanginya lagi! Paham Tewe?"Teweraut hanya mengangguk.
Dia tidak dapat membantah lagi karena dia tahu hukum adat di kampungnya memang demikian. Jika dia membantah, dia akan dihukum beserta anaknya. Tanpa bicara lagi, Teweraut berjalan ke dapur untuk menyalakan tungku. Dia akan membuat sagu dan daging bakar untuk bekal Cipfiw di jew.

Mulai hali itu, Biwifipit melarang Cipfiw tidur dengan ibunya. Sebagai anak yang sudah cukup umur, Cipfiw sudah harus tidur di jew bersama laki-laki dewasa lain. Namun sayang, Cipliw selalu tidur lebih awal dafi teman-temannya. Ketika gelap mulai turun Cipriw berbaring lebih dulu sambil membungkus diri di dalam tapin. Ia tidak berani tidur sendifi. Ia selalu berada di antara orang banyak.

Cipriw selalu tidur lebih awal sehingga ia hampir tidak pemah mengikuti pelajaran yang dibefikan oleh tuatua adat pada malam hari menjelang tidur sambil dudukduduk melingkari bara api di tengah-tengah jew. Saat-saat seperti itu, ketua adat akan bercerita tentang kejayaankejayaan nenek moyang mereka dalam peperangan, dongeng-dongeng atau legenda-legenda rahasia tentang nenek moyang yang tidak boleh tersebar ke suku lain. Di jew pula orang-orang tua mengajarkan orang-orang muda tentang teknik berperang, merencanakan pembalasan kepada suku la in atau pengayauan. Sekali-kali tetua adat juga mengajari anak-anak muda tentang tata cara memahat patung, membuat patung mbis, membuat panah, dan bagaimana cara menggunakannya. Pendek kata, di dalam jew anak muda diajar agar tumbuh menjadi pemuda yang tangguh, gagah berani, dan siap melindungi kampungnya bila diserang oleh kampung lain.

Ternyata, kelakuan Cipriw yang selalu tidur lebih awal karena takut kepada roh yang tinggal di pohon ucuw tidak luput dari perhatian roh tersebut. Roh ucuw terus mengamati tingkah laku Cipriw yang penakut. Entah karena apa, roh ucuw yang baik itu sangat jengkel dan merasa tersinggung dengan kelakuan Cipriw. Roh itu tidak habis pikir mengapa Cipriw sangat takut kepadanya, sementara penduduk kampung sangat menghormati dan mengaguminya sebagai roh yang baik dan roh yang selalu mengabulkan segala permintaan mereka.
"Mengapa anak ini selalu takut kepadaku? Padahal, penduduk yang lain di kampung ini menganggap aku sebagai roh baik. Aku selalu mengabulkan permintaan mereka. Awas, suatu saat nanti kau akan aku ambil dan akan aku bunuh!" Begitu kata roh ucuw dalam hatinya.

Mata pencaharian penduduk di kampung hilir Sungai Fait adalah berburu di hutan. Banyak binatang buruan di belantara hutan Asmat. Hasil buruan mereka lebih dari cukup untuk menghidupi keluarga mereka. Begitu pula, setiap hari ayah Cipriw sangat sibuk berburu babi, kasuari, dan binatang hutan lain untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

Setiap kali Biwiripit pergi berburu, ia selalu mengajak Cipriw dengan maksud agar Cipriw mau melihat dan belajar tentang cara berburu yang baik. Sayangnya, karena Cipriw penakut, ia tidak mau jauh-jauh dari ayahnya ketika sedang berburu. Ia selalu berada tepat di belakang ayahnya. Ke mana ayahnya melangkah, Cipriw selalu mengikutinya.
"Cipriw, coba kau halau babi yang ada di sebelah kanan!" perintah Biwiripit.
"Aduh, Bapak. .. jangankah? Aku takut kalau harus berjalan sendirian ke sana. Di hutan ini pasti banyak roh." kata Cipriw ketakutan.
"Cipriw, kalau kau terus-terusan penakut begini, bagaimana kau bisa menjadi pemuda yang gagah berani?" kata Biwiripit marah.

"Tapi... Bapak, aku memang takut. Aku tidak berani ke sana sendirian," kata Cipriw. Ia merasakan kakinya mulai kaku. Dia tidak mampu lagi mengangkat kakinya. Dia gemetar dan akhimya jatuh pingsan karena ketakutan.

Melihat kondisi anaknya yang jatuh pingsan ketakutan, Biwiripit pun tidak berani memaksa anaknya lagi untuk berburu sendirian. Bagaimanapun Biwiripit teramat kasih kepada anak tunggalnya itu. Setiap kali Biwiripit pulang berburu, ia selalu membawa hewan buruan ke jew terlebih dahulu. Cipriw selalu ber1ari cepat-cepat memasuki jew karena-ia takut melewati pohon ucuw yang_ ada rohnya.
Cipriw akan cepat-cepat berlari, kemudian menyembunyikan diri dalam gulungan tapin. Ia selalu begitu, sementara roh ucuw terus mengarnatinya. Roh ucuw semakin tersinggung dan marah melihat tingkah laku Cipriw.

"Awas, kalau beberapa hari lagi Cipriw masih takut padaku, dia akan aku bunuh!" Begitu roh ucuw merencanakan suatu pembunuhan. Tapi sebaiknya aku akan memberi peringatan terlebih dahulu." Bisiknya dalam hati.

Pada suatu malam yang sunyi, roh ucuw masuk ke dalam jew. Dengan hati-hati ia mengambil Cipriw beserta tapin yang melingkari tempat Cipriw menyembunyikan dirinya dari roh ucuw. Cipriw dibawanya ke tepi Pantai Safan dan diletakkan begitu saja bersama tapinnya di pinggir pantai. Roh ucuw pun kembali ke pohon ucuw.

Keesokan paginya, ketika mentari mulai menampakkan dirinya, Cipriw terjaga karena merasa kedinginan diterpa angin laut. Ketika ia betul-betul terjaga, Cipriw merasa sangat terkejut dan heran bukan kepalang karena mendapati dirinya telah berada di tepi pantai, bukan di dalam jew, tempat ia biasa berbaring menjelang tidur bersama teman-teman dan bapaknya. Melihat kenyataan ini, Cipriw sangat ketakutan. Ia lari terbirit-birit kembali ke dalam jew lalu membangunkan bapak dan teman-temannya yang masih terlelap dalam mimpi. Namun, bapak dan teman-temannya tidak ada yang terjaga. Mereka masih lelap karena tidur sangat larut. Tadi malam mereka asyik mendengarkan cerita tentang pengayauan yang dilakukan nenek moyang dalam pembalasan ke kampung sebelah.

Akhimya, Cipriw membungkus dirinya kembali dengan tapin seperti semula. Roh pohon ucuw melihat bahwa Cipriw telah kembali dengan selamat. Roh ucuw pun sangat geram.
"Oh, awas Cipriw, kali ini aku akan membunuhmu!"begitu bisiknya dalam hati. Roh uruw pun segera masuk ke bawah kolong jew dengan membawa panah. Dengan penuh amarah roh ucuw menusuk Cipriw dengan anak panah tepat di pelipis kiri tembus hingga di pelipis kanan. Seketika Cipriw si penakut itu pun tewas. Roh ucuw pun tidak mencabut anak panah itu sehingga Cipriw terkapar dengan anak panah masih tertancap di pelipisnya. Sementara hari semakin siang. Sinar mentari terang benderang menyinari perkampungan hilir Sungai Fait. Semua orang yang tertidur telah terjaga dari mimpinya.

Mereka mulai sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ada yang mengasah panah, ada yang membuat bara api untuk membakar daging babi sisa tadi malam, ada yang mengambil air, dan ada pula yang mem ahat menyelesaikan ukiran patung mbis pesanan keluarga yang meninggal. Di antara kesibukan itu yang belum terjaga hanya Cipriw. Oleh
karena itu, salah seorang membangunkan Cipriw tanpa membuka tapin yang membungkusnya terlebih dahulu.
"Cipria ... ! Cipria ... ! Buyumbutita ... !! Cipriw,
bangunlah!" Teriaknya, tetapi tidak ada jawaban dari Cipriw.
"Cipria ... ! Buyumbutita .. . ! Cipriw, eee bangun
sudah!" Ia kernbali berteriak sarnbil rnengguncang-guncang
Cipriw. Cipriw tetap terbaring tidak bergerak. Sekali lagi
Cipriw dibangunkan. "Buyurnbutita ... ! Buyumbutita ... !
Cipria ... ! Bangun sudah!" Begitulah ia berteriak rnernbangunkan Cipriw, tetapi tidak ada tanda bahwa Cipriw rnendengarkan suara itu. lsi tapin tetap terdiam dalarn kaku yang dingin.

Ternannya merasa heran dan pena saran. Tidak seperti biasa Cipriw tidur sarnpai sesiang ini. Biasanya Cipriw bangun lebih awal dari ternan-temannya karena ia tidur lebih awal pula. Dengan rasa penasaran segera dibukalah tapin Cipriw.

"Roh yang Agung, tolong ... !" Ia berteriak terkejut dan sangat ketakutan ketika mengetahui Cipriw telah terbujur kaku tanpa nyawa dengan anak panah menernbus pelipis kirinya hingga ternbus ke pelipis kanan.
"Tua adat.bapak... ternan-ternan .. , toloooong.... Cipriw telah rneninggal!" Dia berteriak sekencang-kencangnya rnernanggil tua-tua adat, bapak Cipriw, dan ternanternannya yang ada di jew. Sekali lagi ia berteriak rnernanggil orang-orang yang ada di jew untuk rnenyaksikan keadaan Cipriw. Orang tua Cipriw yang sudah ada di rurnahnya dipanggil. Keduanya dengan tergesa-gesa pergi rnenujujew.

Meledaklah tangis Biwiripit dan Teweraut ketika rnereka rnendapati anak tunggalnya sudah terbujur kaku meni~alkan semua yang diclntainya dengan cara mengenaskan. Mereka berguling-guling melumuri diri dengan lumpur. Demikian pula dengan penduduk lain. Seisi kampung larut dalam duka teramat dalam.
"Ini pembunuhan yang menuntut balas dengan pengayauan." Begitu bis.ik hati mereka. Hari itu merupakan hari berkabung bagi keluarga Cipriw yang malang.

Senja pun datang menghampiri. Matahari tergelincir di langit sebelah barat, seolah-olah dalam cahaya pucat yang suram ikut berduka bagi Cipriw yang mati mengenaskan. Melalui proses adat Cipriw diantar ke tempat pembaringan kemudian dikuburkan di jewsen9 dengan anak panah yang masih tetap tertancap di pelipis kirinya yang menembus pelipis kanan. Panah itu tidak dicabut, terkubur bersama jasad Cipriw yang malang.

Pada malam hari ketika kampung telah sunyi, tiba-tiba timbul keajaiban yang kelak mengukir sejarah. Sebuah legenda telah hadir. Tumbuhlah se batang pohon aneh tepat di atas kuburan Cipriw. Pohon tersebut tumbuh sangat subur dan berbuah sangat lebat. Batangnya besar dan kokoh serta buahnya pun besar-besar. Keesokan harinya, ketika orang orang terjaga, mereka sangat heran dan . sa ling bertanya satu sama lain perihal tumbuhnya pohon aneh di atas kuburan Cipriw.
"Teweraut, lihatlah keajaiban apa yang terjadi di atas kuburan anak kita!" Kata Biwiripit sambil menunjuk ke arah pohon aneh.
"Entahlah Biwi, aku pun tidak tahu." Teweraut pun sangat bingung.
"Apakah ini berarti roh nenek moyang kita telah
menerima Cipriw di alam sana, Tewe?" Kata Biwiripit
meminta persetujuan istrinya.
"Ya, Biwi. Cipriw adalah anak yang baik. Nenek moyang pasti menerimanya.
" Teweraut mempertegas pendapat suaminya.
"Kira-kira apakah nama pohon ini?" Tiba-tiba penduduk kampung bertanya-tanya.
"Entahlah, pohon ini aneh. Seumur hidup aku baru melihatnya."
" Seorang tua adat menjawabnya.
"Apakah orang dapat memakan buahnya?"" pertanyaan lain muncul.
"Tidak tahu juga. Pohonnya saja baru kita lihat." seseorang menjawab dari belakang.

Pagi itu juga semua candiwis10 dan puwasl1 berkumpul di depan jew mengelilingi pohon aneh yang berbuah lebat. Seseorang ada yang berani memetik buah itu, lalu mengupas kulitnya. Air yang berada dalam buah itu awalnya dilberikan -kepada_ seekor anjing. Temyata, anjing yang memrnum air buah ltu tetap hidup. Selanjutnya, daging buah itu juga dicobakan kepada anjing, juga tidak mati. Akhirnya, semua penduduk kampung memetik buah itu dan memakannya. Namun, tak seorang pun tahu apa nama pohon aneh itu. Ketika mengupas kulit buah, mereka mengamati isi di dalamnya. Tampaklah seperti garis mata, murut, dan hidung Cipriw. Mereka berkeyakinan bahwa pohon ini jelmaan dari Cipriw.

Suatu hari orang tua Cipriw, Biriwit dan Tewe raut, bermimpi. Dalam mimpinya mereka mendapat pesan untuk menamakan pohon itu jisin yang artinya pohon kelapa.

Adapun buahnya bernama akyamanmak, artinya buah yang berasal dari orang mati. Pagi harinya Biwiripit dan Teweraut mengabarkan kepada seluruh warga kampung.

"Saudara-saudaraku penduduk kampung, tadi malam kami bermimpi yang sama." Begitu Biwiripit mulai berbicara.

"Apa yang ada dalam mimpimu, Biwi?n seorang penduduk kampung menyela dengan tidak sabar.

"Dalam mimpi kami mendapat pesan bahwa pohon aneh berbuah lebat yang tumbuh di atas kuburan Cipriw haruslah diberi nama jisin dan buahnya bemama akyamanmak, artinya buah yang berasal dari orang mati.n begitu Biwiripit menyampaikan isi mimpinya.

"Baiktah, mulai sekarang pohon aneh inr kita namakan jisin dan buahnya kita namakan akyamanmak karena memang berasat dari jasad Cipriw." kata ketua adat menegaskan.

Sejak saat itu, pohon aneh tumbuh pada · banyak tempat di Asmat dan orang-orang Asmat menyebutnya pohon jisin atau pohon kelapa.

(Sumber 10 Cerita Rakyat Papua Terpilih - Kementrian Pendidikan Nasional)

ASAL-USUL PERSEBARAN SUKU-SUKU DI MERAUKE

Admin     Selasa, November 05, 2019    
Diceritakan kembali' oleh Emik Puji Utami

Zaman dahulu kala di sebuah hutan yang sang at lebat, hiduplah seorang kakek bersama dua ekor anjing dalam sebuah befa~. Ia tinggal seorang diri karena ia adalah orang pertama yang diciptakan oleh Yang Maha Kuasa di daerah tersebut. Dua ekor anjing tersebut bernama Nggarembu, satu berwama belang dan yang satu lagi berwama hitam. Meskipun dua ekor, tetapi nama kedua anjing itu hanya satu, yakni Nggarembu. Kedua ekor anjing itu selalu menemani sang Tetel saat berburu untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Marind-Anim men dressed for ceremony, south coast Dutch New Guinea. c 1920s -https://en.wikipedia.org/wiki/Marind_people

Pada suatu hari, Tete hendak pergi berburu karena persediaan makanan pada hari itu telah habis. Tete
memanggil Nggarembu untuk diajak berburu. Setelah memanggil berulang kali, Nggarembu tidak muncul-muncul juga. Akhimya, Tete mencari di sekitar befak. Namun, setelah sekian lama mencari dan tidak menemukan kedua ekor anjingnya Tete memutuskan untuk tidak berburu. Hari
itu Tete hanya makan sagu bakar tanpa ada lauk. Pada sore hari, kedua anjing milik Tete pulang dan perutnya terlihat mengembang menandakan bahwa kedua anjing itu telah kenyang.

Hari berikutnya, Tete terlambat bangun. Setelah bangun ia segera menyiapkan peralatan untuk berburu dan memanggil Nggarembu. Nggarembu datang dengan perut yang mengembang tanda sudah kenyang sehingga kedua anjing tersebut tidak dapat diajak untuk berburu. Tete merasa bingung dan kesal terhadap kedua anjing tersebut. Bagaimana anjing itu bisa kenyang padahal ia tidak memberinya makan dan di . hutan tersebut ia hanya hidup sebatang kara? Akhimya, masih dalam kebingungan Tete kembali makan sagu bakar saja.

Pertanyaan selalu muncul dalam benak sang Tete. "Mengapa kedua anjing itu sudah kenyang sebelum diberi makan oleh Tete?" Ternyata, tanpa sepengetahuan Tete, Nggarembu setiap pagi pergi ke hutan dan mendapatkan berbagai makanan yang berasal dari sekitar pohon waraJ yang berukuran sangat besar. Dari dalam pohon itulah Nggarembu memperoleh makanan yang berupa kotoran
manusia, sisa makanan, sagu, tulang-tulang yang masih terbalut sedikit daging yang telah dibakar.

Hal inilah yang membuat Nggarembu merasa kenyang dan malas untuk berburu lagi. Setelah kejadian beberapa hari itu, pagi-pagi sekali Tete bangun dan mulai mengamati kedua ekor anjingnya
yang masih tidur. ndak lama kemudian, kedua anjing itu terbangun dan segera berlari menuju pohon warak yang berada di tengah hutan. Tete segera mengikuti kedua anjingnya sambil berlari. Nggarembu mengetahui bahwa mereka sedang diikuti tuannya. Oleh karena itu, mereka berlari dengan cepat dan meninggalkan Tete jauh di belakang. Kemudian kedua anjing itu segera berhenti untuk menunggu Tete. Nggarembu sebenamya ingin memberitahukan kepada tuannya tetang keberadaan pohon warak yang berisi manusia tersebut. Itulah saat yang paling tepat menurut Nggarembu berdua.

Setelah menjelajahi hutan rimba yang lebat dan cukup menguras tenaga, tibalah Nggarembu di bawah pohon warak. Nggarembu menoleh ke belakang, tetapi Tete masih tak terlihat di belakang. Sambil terengah-engah, Tete baru menyadari bahwa dalam hutan itu ada jalan setapak yang telah dibuat oleh Nggarembu. Jalan setapak itu menjadi licin dan tampak seperti banyak orang yang lalu-lalang. Padahal, yang membuat adalah Nggarembu yang mondar-mandir setiap pagi untuk mengambil makanan dari ba~ah pohon warak tersebut.

Ketika Tete memasuki jarak sekitar seratus meter dari pohon warak, Tete mulai mendengar suara gaduh yang ditimbulkan oleh suara orang-orang yang berada dalam pohon. Sekonyong-konyong Tete menghentikan larinya dan memasang telinga dengan cermat. "Heh ... , suara apa ini? Di hutan ini kan hanya aku seorang yang tinggal. Mengapa ada suara gaduh berasal dari pohon itu?" Tete berpikir
keheranan. Tete kemudian berjalan mendekat ke arah pohon warak. Ternyata, pendengaran Tete benar, suara gaduh itu adalah suara orang yang be rasa I dari dalam pohon warak. "Wah, ini tidak bisa dibiarkan. Ini adalah tanah kekuasaanku. Mengapa ada orang lain yang tinggal di sini tanpa sepengetahuanku?" Tete membatin., "Aku akan mengusir mereka", kata Tete sambil memutar arah kembali ke befaknya.

Tete berlari kencang menuju befaknya untuk mengambil peralatan perang, busur, panah, dan tombak.
Tete tidak lupa menghias diri dengan memberikan pewama pada wajah dan tubuhnya. Hal ini menggambarkan bahwa Tete tengah marah dan bersiap untuk berperang. Setelah selesai mempersiapkan diri dengan sempuma, Tete kembali menuju hutan untuk membuat perhitungan dengan orangorang yang ada di dalam pohon warak. Menurut Tete, orang-orang yang berada dalam pohon tersebut tidak memiliki sopan santun karena mereka menginap di wilayah kekuasaan Tete tanpa meminta izin terlebih dahulu.

Sesampainya di dekat pohon warak, Tete berhenti dan memperhatikan kembali suara gaduh yang berasal dari dalam pohon. Melihat tuannya datang, Nggarembu berlari mengelilingi pohon warak sambil terus menggonggong. Tete kemudian mendekat dan mengintip ke dalam pohon. Ternyata, pohon warak itu seperti gedung bertingkat, tiap tingkat dihuni oleh satu suku bangsa yang ada di Merauke. Setelah puas melihat-lihat, Tete kemudian membongkar pintu pohon tersebut dan menyuruh semua penghuni dalam pohon tersebut keluar:

Manusia yang berada dalam pohon itu telah keluar semua. Tete memerintahkan mereka berkelompok berdasarkan tingkatan tempat tinggal mereka. Setelah itu, Tete memarahi mereka karena telah lalai tidak memberi tahu Tete tentang keberadaan mereka di dalam pohon yang berada di tanah ulayat milik Tete. Kelompok manusia itu meminta maaf kepada Tete dengan menggunakan bahasa mereka masing-masing. Tete mengerti semua bahasa yang dimiliki oleh manusia penghuni pohon tersebut."Kalian tidak memiliki sopan santun. Aku memaafkan kalian, tetapi dengan satu syarat, mulai sekarang kalian harus pergi dari tanah ulayatku!" kata Tete memarahi mereka.
"Kalian, orang-orang yang tinggal di pohon paling bawah, kalian satu bahasa dengan aku maka kalian boleh tinggal bersamaku di wilayah ini!" kata Tete sambil menunjuk pasangan yang tinggal di pohon paling bawah.

"Kalian yang tinggal di tingkat dua, kalian memang satu suku denganku tapi bahasa kalian memiliki sedikit perbedaan. Jadi, kalian tinggal di daerah Yanggandur!""
"Selanjutnya, wahai pasangan yang tinggal ditingkat tiga, kalian memakai bahasa Smarki Puney. Tempat tinggal kalian sekarang adalah Kampung Yerew!5
"
"Kalian yang tinggal di tingkat empat pohon warak ini, kalian tidak memiliki kesamaan bahasa denganku. Kalian termasuk suku terasing. Nama suku kalian adalah Morori/Maraori. Kalian harus tinggal di Kampung Wasur!" Tete melanjutkan perkataannya.

Kemudian Tete kembali berkata, "Kalian yang memakai tempat sirih, kalian sebenarnya dua suku, karena bentuk tubuh kalian berbeda. Kalian yang berbadan tinggi besar, kalian adalah suku Marind. Bahasa yang kalian pakai adalah bahasa Maru/Malind. Tempat tinggal kalian adalah di pesisir pantai, yaitu Pantai Samkai, Nasem, Ndalir, dan Onggaya. Lalu kalian yang bertubuh kecil dan pendek, kalian sebenarnya masih ada hubungan saudara dengan aku dan suku Marind. Oleh karena itu, tempat tinggal kalian adalah di Kimaam", Tete terus saja berkata.Terakhir, tete berbicara dengan kelompok orangorang yang berada di tingkat paling atas dari pohon warak ltu. "Kalian suku Yei, tempat tinggal kalian adalah di seberang Kali Maro. Pergilah ke sana dan hiduplah dengan damai!"

Sejak saat itu, suku-suku bangsa yang ada di Merauke menempati daerah-daerah yang telah ditetapkan oleh Tete. Mereka hidup damai dan memiliki hak ulayat yang luas. Sampai saat ini tidak seorang pun yang tahu siapa nama Tete yang pertama diciptakan oleh Yang Maha Kuasa tersebut. Akan tetapi, menurut cerita · marga Ndikwan, merekalah keturunan Tete yang masih ada sampai saat ini.

###a.a.a.a.a.###

(Sumber 10 Cerita Rakyat Papua Terpilih - Kementrian Pendidikan Nasional)

What is Internet Blog Marketing?

Admin     Minggu, Oktober 27, 2019    
So you have been hearing all about these blogs that are all the rage lately in the internet world. However, you have yet to start one of your own, and pretty much figure that you are the last person on earth that does not have one. While you may think that this is true, you are going to be shocked that not everyone has a blog, and most of those that do, have them for internet blog marketing purposes. Internet blog marketing is all of the rage just as much as blogs are. When you talk about internet blog marketing, you are meaning that you use the internet to market things on your blog. That would be the most simplest way to put it.

Marketing things on the internet is not as easy as it was just a few years ago. Everyone is into marketing online because of the pay per click programs that everyone wants a part of. And that means that the competition is fierce. In order to market things online and become successful at it, you need to choose a market. You can not just use one single blog to market a number of things unless they are all relevant. If you tried, you would really get no where and fast.

So, choosing your market is even kind of hard to do. Some people will tell you to choose low competition markets to begin with, that have many searches. However, other people will tell you to choose something that you know and love, and that you are passionate about. Even something that you can be known as an expert about. When you do so, you gain trust in the internet world, and many people will know you for your market and your views on it. And that in return will make you successful. However, you must truly know what you are talking about, or you will be found out. It has even been known that some will choose a topic to become an expert on, and when they do, learn all that they can about it before they begin to promote it. Even if they never knew much about it to begin with.

Internet blog marketing is still easier for some than others. It is easier the sooner you get started with it. Because the internet changes every day and things are not all ways the same, the faster you learn the best marketing techniques and tools now, the easier it will be for you once they change and start to become more complicated.

Not only does the interent change frequently, so do the search engines. For example, Google changes about four times a year. You will find that when it does go through a change and update everything, your page ranks are different, and so are your search rankings. When you might have been in the number two spot on Google search for 3 months, after they go through a change you just might find yourself to be on page three.

Internet blog marketing is all about knowing and becoming familiar with the internet. The more you know about it the better off your blogs will be. However, if you are just starting out, don’t get discouraged, you can still learn everything that you need to in order to become successful at blog marketing.

AKU DAN CERITAKU DI KAMPUNG SKENDI KABUPATEN SORONG SELATAN

CHADOS-SANGKEK     Selasa, September 11, 2018    
CERPEN KISAH NYATA
AWAL CERITA AKU LALUI HIDUP DI SORONG SELATAN
 
Hampir tiap pagi dan sore terdengar bunyi betel ,teman teman dikampung skendi selalu berkata sedikit demi sedikit batu yang di pecah akan menjadi banyak. Seperti biasa aku bergegas mengambil,betel,martelu,linggis untuk melakukan aktifitas rutinritasku memecah batu.Di tengah sunyi Kampung Skendi sesekali terdengar teriakan anak anak kecil yang sedang bermain, aku juga melihat asap api sepertinya seorang petani sedang membersihkan kebunnya.
 

Aku memandang tempat di sekitarku. Semuanya terlihat asing bagiku,aku baru seminggu tinggal di kampung Skendi. 8 tahun aku hidup di kota study Jogjakarta untuk menampung segala ilmu. Bila melihat jauh ke belakang, banyak orang mengejar ilmu untuk mengubah nasip keluarga,kelompok, lingkungan di mana mereka berada

Kala itu kehadiranku di kampung Skendi hanya mengikuti ajakan seseorang wanita yang aku kenal di kota study jogjakarta, Seluruh masyarakat kampung skendi terherang melihatku, Di tahun 2012 untuk pertama kalinya aku tinggal di kampung Skendi, di Skendi aku tak mengenal masyarakat kampung ini. Untuk memulai kehidupan di Skendi aku tinggal di Goa Batu (Klawata) aku hanya menambah lima lembar daun sen untuk di jadikan dindin Goa batu ini.

Hari pertama memulai aktifitas untuk memecah batu, aku hanya memanaskan air panas dengan botol aqua sedang, jika di saat saat aku sedang memecah batu kelaparan menhampiri maka aku kembali memanaskan air dengan mengunakan botol mineral aqua. Beberapa menit air terasa hangat berlahan aku membuka mie instan dan memasukan air hangat itu kedalamnya.

Dua minggu bertahan dengan botol mineral  untuk kelangsungan hidup, batu hasil pecahanku terlihat banyak dan tak di sadari ada yang datang membelinya. Tanya si pembeli,berapa harga batu,800 ribu untuk satu ret jawabku.aku ambil 2 ret jawab si pembeli ini.

Sekarang aku sudah punya uang 1.600 ribu dan tak mau lagi aku harus mencari botol aqua yang di buang pemilik setelah menhabiskan airnya. Maka dengan uang yang ada aku membelikan peralatan masakku yang sangat aku butuhkan.  Selama 8 bulan hidup di Goa batu (klawata) jika malam hari aku hanya mengunakan lilin untuk menerangi disaat aku mau beristirahat dan jika lilinya terbakar habis maka suasa terlihat gelap.

Sebenarnya aku telah terjebak bersama orang yang tidak bermoral dan Ibadah hanya mereka jadikan topen untuk menutup wajah kemunafikan.

Dia adalah Seseorang wanita yang ku kenal di kota study Jogjakarta, terlihat lembut , santun dan taak beribadah. Di akhir tahun 2011 si wanita ini berangkat ke fakfak yang pada saat ini aku sedang pulang ke fakfak dari kota study Jogjakarta untuk bertemu keluargaku yang sudah lama tak berjumpa dengan mereka.

Si wanita ini mengunakan kapal laut sampai di fakfak dan hanya tiga hari, si wanita ini berkata ia ingin kembali ke sorong selatan dengan dalih pekerjaan. Akses fakfak –sorong untuk kapal laut sangat susah tapi terima kasih pada saat itu ada kapal dari arah selatan tujuan utara ( Timiki-kaimana-fakfak-sorong-bitun). Kapal laut itu masuk dan sandar di fakfak siang hari dan akan bertolak tujuan sorong pada soreh harinya.

Awalnya diriku tidak ada gambar bahwa akan ikut dengannya tujuan sorong, tapi terlihat penumpan kapal laut yang begitu padat penumpan, terlihat juga si wanita ini mau pinsang. aku kembali ke dalam kapal laut untuk menanyakan keadaannya. Tak lama kemudian ia berkata kamu ikut ke sorong dan nanti kembali ke fakfak.

Sesampai di sorong jam 3 pagi, wanita ini ia langsung ke keluarganya yang ada di malanu kampung kota sorong dan aku tinggal keliaran di pelabuhan sampai pagi jam 7 . ketiga di jam 9 pagi  wanita ini ia menelponku dan bertanya kamu dimana dan aku menjawabnya di pasar remu. si wanita ini ia berkata tunggu di pasar remu. Tidak lama kemudian wanita ini sampai dan ia berkata kita lanjut perjalanan ke sorong selatan.

Karna penasaran betuk kabupaten sorong selatan diriku mengikuti ajakannya, setibanya kita di sorong selatan soreh hari, aku di sambut dengan baik oleh ibu,bapa dan adik2nya. Keesokan hari jam 10 pagi ,rumah mereka di datanggi beberapa orang lalu duduk di depan ruang tamu dan menhadirkan aku duduk di sekitar mereka lalu berkata, karna kamu sudah masuk di rumah ini jadi harus membayar uang pintu. Terkejutlah aku dan hanya bertanya ada apa di balik semua ini.

Aku hanya satu minggu tinggal di rumah mereka sorong selatan, aku kembali ke fakfak dengan membawah pesan dari keluarga wanita ini. Di fakfak hanya dua minggu aku membawah ibu untuk kembali ke sorong selatan dan menyerahkan uang sepuluh juta,beberapa piring dan kain adat .

Hanya tiga hari di sorong selatan ibu dan diriku mengunakan mobil tujuan sorong dan selanjutnya ke fakfak. Karna uang yang kita bawah 30.000.000 . 10.000.000 di taruh untuk uang minang dan 2.000.000 di kasih untuk mereka yang masak pada saat itu. Dan sisanya di ibu membagikan untuk adik2nya yang sudah lama ibu tidak menjumpai mereka ,sejak bapa bertugas di fakfak.

Dengan sisa uang yang sedikit ibu dan diriku hanya duduk di belakang mobil L200 tujuan sorong. Sesampai di sorong dan langsung ke pelabuhan,si wanita ini menelpon, kamu harus kembali kesorong selatan”. disinilah awal kebodohanku.

Di sorong selatan aku tinggal bersama mereka sekeluarga, berlahan aku mulai mengenali beberapa orang di sekitar kampung. mereka berkata kamu tadak tau latar balakang wanita ini. Kataku tidak begitu. Lalu mereka berkata wanita ini ke fakfak karna dia ketahuan selingkuh dengan suami orang.

Karna bahasa yang telah merekan sampai ini terasa aku bertingkah mau gila, aku pedam semua rahasia ini dan di saat aku sendiri terasa mau bunuh diri karna kenapa kisah ini di alamatkan untuk diriku. Tapi aku terus tabah dan sesalu diam,tak lama kemudia wanita ini bersama ibunya dan keluarga berkelahi dengan adik dari ayahnya hanya karna tanaman. Pertenkaran ini mengakibatkan saling usir. Aku yang sementara itu lebih dulu ke sorong dan rencana pulang fakfak karna bertengkar dengan ibunya lantaran ibunya berkata anakku mau ke jarkata . Bagiku terasa aneh karna di sebutkan tempat yang aku sering kesana kalaitu aku masih di Jogjakarta.

Akhirnya aku di telpon wanita ini dan menceritakan semua kisah yang ia hadapi,akhirnya aku kembali ke sorong selatan. Sampai di sorong selatan aku tinggal di kampung wayer bersama adik dari ibuku.

Dari kampung wayer aku di tunjukan kampung skendi dimana letak lokasih rumah yang akan di bangun,truktur tanah kemiringan dan banyak batu batu besar. Dengan sabar aku memecah batu batu itu untuk menaruh fondasi rumah dan terus menerus memecah batu, akhirnya rumah itu berhasil di bangun dan lokasih tempat memecah batu itu terlihat luas.

Disaat aku sedang bekerja memecah batu, si wanita ini di luar sana berselingkuh dengan suami orang dari tahun ke tahun. Aku hanya bertahan hidup siang hari dengan mie rebus  tapi si wanita ini makan di warun bersama selingkuhannya. apa mau di kata ,takdirku harus aku jalani dan aku selalu berharap agar permisahan aku dan siwanita ini harus terjadi. Di tahun 2014 akhirnya kita berdua pisah dan tak sampai 4 bulan aku mendengar wanita telah hamil dari hasil selingkuhnya.

Wanita ini menyadari ia telah hamil dengan suami orang” ia melaporkan diriku di kantor polisi untuk segera tanda tangan surat permisahan dengan beberapan poin tertuat dalam surat pernyataan polisi. 1. Rumah menjadi milik si wanita dan apa yang telah aku kerjakan itu di bayar 20.000 .000 ( dua puluh juta ) sebagai ucapan terima kasih.

Jeritan hati hanya terdengar oleh alam. Segudang pertanyaan masih terpendam dan membekas sebuah noda yang tak bisa hilang. Sudah ada terlihat jawaban yang semakin menusuk hati sehingga timbul rasa  benci Jangankan setahun sampai kiamatpun aku menbencinya..

Aku tidak memilih menjadi sosok pemecah Batu, aku muak  mengikuti ajakan wanita ini. Kini 4 tahun wanita ini pergi meninggalkanku . Seluruh pengobarnan yang aku telah lakukan dibalas dengan duri , bahasa manisnya kala itu aku terpaksa mengubur semua mimpi, cita-cita, harapan dan semua yang ada di dalam imajinasi kecilku.
 

Wanita ini terlah pergi dan  aku bingung dengan berbagai pilihan, sementara  aku juga  orang baru di tempat ini dan tidak begitu dikenal, aku harus memilih antara kembali ke fakfak atau tetap menetap di kampung Skendi dalam keadaan sendiri.

Aku memang bukan seorang anak yang terlahir dari keluarga yang kaya raya, aku hanya anak kampung yang terlahir dari keluarga sederhana, ayahku guru dan  telah pension 8 tahun lalu, sedangkan Ibuku hanya sebagai ibu rumah tangga.

Sedih memang, tapi aku coba untuk ihklas menjalani kehidupan di negeri 1001 sunggai. Aku masih percaya akan sebuah keajaiban dan mukjizat yang datangnya dari Allah, aku berusahan sekuat tenaga dan terus berdoa. Agar aku bisa menunjukan pada dunia bahwa aku bisa berhasil dengan caraku sendiri.

Hanya orang takut yang bisa berani, keberanian melakukan sesuatu yang ditakutinya. Maka kita punya kesempatan untuk bersikap berani. Dalam mencapai keberhasilan yang tertunda.

Akhirnya sekarang aku tinggal seorang diri di Kampung Skendi Kabupaten Sorong Selatan.“Terima kasih atas semua cerita hidup yang ku dapat saat ini, aku menyadari kenangan bukan tentang bagaimana kita mengingat, tapi mewujudkannya dalam bentuk tulisan untuk mengabadikannya.CS
KUNJUNGI :GORESAN ANAK RANTAU

 

Kuawali perjalan pagi di sorong selatan

CHADOS-SANGKEK     Kamis, September 06, 2018    
Kuawali perjalan pagi di sorong selatan
Kuawali aktifitas dengan  puji syukurku kepada Tuhan, karna masih di berinafas untuk melihat betapa indah dan besar kuasaNya menciptakan segala isinya dengan sangat sempurna.

Sorong Selatan terkenal dengan julukan Kota 1001 Sungai. Banyak tempat wisata yang bisa menjadi Destinasi saat berlibur. Hari ini aku mulai melangkahkan menuju persimpangan jalan untuk menunggu ojek. Saat berada di ojek, aku melihat kiri dan kanan banyak perubahan. Pemerintah Sorong Selatan ternyata sudah menata jalan dua jalur dari SMP2 Teminabuan sampai Kompleks kantor bupati sesna.

Terlihat masyarakat dan kendaraan bermotor sepanjang perjalan teminabuan s/d sesna. Mereka sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Aku melihat ada seorang remaja yang duduk di depan rumahnya ,sepertinya dia tidak pergi bersekolah hari ini, ada juga seorang bapak dengan noken dan kapak bawaannya, seperti ia mau pergi   di kebun. aku melihat juga seseorang memakai pakian ASN yang rapi sepertinya dia seorang yang bekerja di kantor Bupati sesna.
Asap kendaraan bermotor menhiasi perjalananku teminabuan s/d kompleks kantor Bupati dipagi ini. Di persimpangan jalan kajase, aku melihat banyak pengguna kendaraan beroda dua ( ojek ) saling ngebuk  dan tidak memikirkan keselamatan penumpannya. Apapun yang menjadi alasan untuk ojek  seharusnya keselamatan penumpan dikedepankan.
Aku melihat lagi di persimpangan jalan manelek ada beberapa remaja usia sekolah ngoron disitu. Dari pagi sampai sore ternyata mereka menawarkan pasir milik mereka kepada pembeli yang mengunakan trek melintasi pandangan mereka. Kulihat mereka mengunakan celana pendek  dengan topi menutup kepala mereka. Aku merasa mereka saat membutuhkan uang dari hasil dagang pasirnya. Aku terhening  saat melihat mereka dan bertanya bagaimana jika dagang pasirnya tidak laris, dimana orang tua mereka, bagaimana dengan sekolahnya, pertanyaan itu sampai sekarang masih belum terjawab. Aku sangat menghargai usaha mereka dan mengucapkan terima kasih untuk Tuhan yang selalu memberikan kesehatan bagi mereka.

BACA JUGA-AKU DAN HARAPANKU DI KABUPATEN SORONG SELATAN

Di sepanjang perjalanan aku memperhatikan pemandangan pohon pohon  di pertigaan manelek s/d sesna. Sorong Selatan menyimpan banyak cerita buat pribadiku. Ya sebuah cerita. Tanpa sadar aku sudah melewati satu cerita hidup.

Aku sampai disebuah gedung. Spontan saja aku bersuara ,ojek singgah di tempat ini” suruhku ojek tersebut menghentikan laju motornya. Aku segera turun dan membayar sesuai jarak tempuh yang dilalui. Kupandangi sejenak bangunan itu.Bangunan yang kupandangi itu adalah kantor Bupati dengan berlahan aku mulai melangkah menyusuri setiap sudut bangunan . Aku melihat begitu banyak SKPD dan staf kantor ,terlihat juga masyarakat umum yang datang mengurus keperluan mereka.

Sekedar menikmati petualan, aku berjalan kearah kantor pemberdayaan perempuan yang berada disekitar kantor Bupati .ada sebuah warung untuk aku menikmati makan siangku. Aku mulai memesan menu. “Nasi telur dadarnya satu”, mintaku kepada ibu penjual itu. “Baik, silahkan ditunggu sebentar ya”, jawab si Ibu dengan ramahnya. Aku mulai mencari tempat duduk yang masih kosong. Aku duduk di antara para Pegawai kantoran.Tiba tiba si Ibu penjual tadi datang menyodorkan nasi telur dadar yang kupesan.“Silahkan dek,”kata si Ibu dengan begitu lembutnya.“Terima kasih Bu,” sambutku.

Sambil menikmati santapan makan siang, aku juga melihat suasana di warung makan yang semakin ramai pengunjun yang datang menikmati beberapa menu yang tersedia di warung ini. Suasana siang ini sangat ramai, ada yang berkumpul sambil bercerita persoalan kantornya, ada yang bercerita persoalan keluarga,lingkungan dan berbagai cerita lainnya.

Sambil beristirahat aku mulai mengambil sebuah Handphone dari dalam tasku. Aku kembali membuka galeri untuk melihat foto foto yang kuambil tadi. Aku berpikir sejenak dan memandangi foto demi foto. Ku pandangi semua foto dan mengucapkan semoga Sorong Selatan trus berkembang.

Setelah aku berpetualan di kompleks kantor Bupati Sesna, akhirnya aku pulang. “Terima kasih atas semua cerita hidup yang ku dapat saat ini.Perjalanan pulang, aku menyadari kenangan  bukan tentang bagaimana kita mengingat,tapi mewujudkannya dalam bentuk tulisan untuk mengabadikannya.CS

Keberhasilan Sebuah Betel di Kampung Skendi Pu Cerita

CHADOS-SANGKEK     Kamis, September 06, 2018    
C E R P E N
Keberhasilan Sebuah Betel di Kampung Skendi Pu Cerita

Hampir tiap pagi dan sore terdengar bunyi betel ,teman teman dikampung skendi selalu berkata sedikit demi sedikit batu yang di pecah akan menjadi banyak. Seperti biasa aku bergegas mengambil,betel,martelu,linggis untuk melakukan aktifitas rutinritasku memecah batu.Di tengah sunyi Kampung Skendi sesekali terdengar teriakan anak anak kecil yang sedang bermain, aku juga melihat asap api sepertinya seorang petani sedang membersihkan kebunnya.

Aku memandang tempat di sekitarku. Semuanya terlihat asing bagiku,aku baru seminggu tinggal di kampung Skendi. Delapan tahun aku hidup di kota study Jogjakarta untuk menampung segala ilmu. Bila melihat jauh ke belakang, banyak orang mengejar ilmu untuk mengubah nasip keluarga,kelompok, lingkungan di mana mereka berada

Kala itu kehadiranku di kampung Skendi hanya mengikuti ajakan seseorang teman yang aku kenal di kota study jogjakarta, Seluruh masyarakat kampung skendi terherang melihatku, Di tahun 2012 untuk pertama kalinya aku tinggal di kampung Skendi, di Skendi aku tak mengenal masyarakat kampung ini. Untuk memulai kehidupan di Skendi aku tinggal di Goa Batu (Klawata) aku hanya menambah lima lembar daun sen untuk di jadikan dindin Goa batu ini.

Hari pertama memulai aktifitas untuk memecah batu, aku hanya memanaskan air panas dengan botol aqua sedang, jika di saat saat aku sedang memecah batu kelaparan menhampiri maka aku kembali memanaskan air dengan mengunakan botol mineral aqua. Beberapa menit air terasa hangat berlahan aku membuka mie instan dan memasukan air hangat itu kedalamnya.

Dua minggu bertahan dengan botol mineral  untuk kelangsungan hidup, batu hasil pecahanku terlihat banyak dan tak di sadari ada yang datang membelinya. Tanya si pembeli,berapa harga batu,800 ribu untuk satu ret jawabku.aku ambil dua ret jawab si pembeli ini.

Sekarang aku sudah punya uang 1.600 ribu dan tak mau lagi aku harus mencari botol aqua yang di buang pemilik setelah menhabiskan airnya. Maka dengan uang yang ada aku membelikan peralatan masakku yang sangat aku butuhkan.  Selama 8 bulan hidup di Goa batu (klawata) jika malam hari aku hanya mengunakan lilin untuk menerangi disaat aku mau beristirahat dan jika lilinya terbakar habis maka suasa terlihat gelap. 

Sebenarnya aku telah terjebak bersama orang yang tidak bermoral dan Ibadah hanya mereka jadikan topen untuk menutup wajah kemunafikan.

Jeritan hati hanya terdengar oleh alam. Segudang pertanyaan masih terpendam dan membekas sebuah noda yang tak bisa hilang. Sudah ada sebuah jawaban yang semakin menusuk hati sehingga timbul rasa  benci yang  mendalam.

Aku tidak memilih menjadi sosok pemecah Batu, aku muak  mengikuti ajakan seseorang yang 4 tahun  telah pergi meninggalkanku . Seluruh pengobarnan yang aku telah lakukan dibalas dengan duri , bahasa manisnya kala itu aku terpaksa mengubur semua mimpi, cita-cita, harapan dan semua yang ada di dalam imajinasi kecilku.

Aku ditinggal pergi seseorang saat itu aku dibuat bingung dengan berbagai pilihan, sementara  aku juga  orang baru di tempat ini dan tidak begitu dikenal, aku harus memilih antara kembali ke fakfak atau tetap menetap di kampung Skendi dalam keadaan sendiri. 

Aku memang bukan seorang anak yang terlahir dari keluarga yang kaya raya, aku hanya anak kampung yang terlahir dari keluarga sederhana, ayahku guru dan  telah pension 8 tahun lalu, sedangkan Ibuku hanya sebagai ibu rumah tangga. 

Sedih memang, tapi aku coba untuk ihklas menjalani kehidupan di negeri 1001 sunggai. Aku masih percaya akan sebuah keajaiban dan mukjizat yang datangnya dari Allah, aku berusahan sekuat tenaga dan terus berdoa. Agar aku bisa menunjukan pada dunia bahwa aku bisa berhasil dengan caraku sendiri.

akhirnya sekarang aku tinggal seorang diri di Kampung Skendi Kabupaten Sorong Selatan.“Terima kasih atas semua cerita hidup yang ku dapat saat ini, aku menyadari kenangan bukan tentang bagaimana kita mengingat, tapi mewujudkannya dalam bentuk tulisan untuk mengabadikannya.CS

Harapan Kecilku di Kabupaten Sorong Selatan

CHADOS-SANGKEK     Selasa, September 04, 2018    
C E R P E N
Harapan Kecilku di Sorong Selatan

Aku lalui aktifitas sebagai seorang perantau dengan melakukan pekerjaan yang halal untuk kebahagiaan kedua orang tua dan sanak saudara yang ada di Fak Fak dan kaka perempuan di kota study Jogjakarta.

Sesaat aku menatap kejalan untuk mengawali langkahku, lalu aku berjalan kearah persimpangan jalan Skendi untuk menumpangi sebuah ojek. Teriakku ojek, tukang ojek itu menguragi laju motornya dan berhengti di depanku dan berkata kawan tujuan kemana, wermit mas, jawabku”.

Membutuhkan wakut lima menit perjalanan skendi –warmit, aku berkata mas berhengti di depan gedung itu. Spotan tukang ojek itu berkata,di depan sekretariat Partai HANURA ,ia mas jawabku”.

Ketika aku membuka tas kecilku yang sering aku bawah untuk mengambil 5.000 mau membayar ojek sesuai jarak tempuh skendi-wermit,tukang ojek itu bertanya kawan kapan pemilihan DPRD,berapa jumlah Caleg dari partai HANURA,kamu di partai kerjaannya sebagai apa”

Hanya sekilas aku berkata,mas nanti di tahun 2019 bulan april baru di laksanakan pemilu Presiden ,DPR ,DPD,DPRD. Di Partai HANURA ada 20 caleg yang sudah di nyatakan lolos dan ke 20 caleg ini terbagi di empat dapil,dapil itu artinya apa kawan,tanya si tukang ojek itu dengan rasa penasaran. Daerah Pemilihan mas jawabku,diwilayah Teminabuan itu Dapil 1,diwilayah Sawiat Raya itu Dapil 2,diwilayah Imekko itu Dapil 3,diwilayah Moswaren itu Dapil 4.


Jadi dapil 1 itu jumlah calegnya sesuai kuota kursi 8 orang terdiri dari 5 laki laki dan 3 perempuan, dapil 2 itu jumlah calegnya sesuai kuota kursi 3 orang terdiri dari 2 laki laki dan 1 perempuan, dapil 3 itu jumlah calegnya sesuai kuota kursi 6 orang terdiri dari 4 laki laki dan 2 perempuan, dapil 4 itu jumlah calegnya sesuai kuota kursi 3 orang terdiri dari 2 laki laki dan 1 perempuan.

Kawan di partai HANURA posisi kerjanya sebagai apa”,Tanya mas tukang ojek ini yang kedua kalinya”. Aku bekerja sifatnya membantu untuk memasukan berkas caleg pada aplikasi sistim informasi calon (silon) dan menyiapkan berkas fisiknya untuk pembuktian di KPU,jawabku pada si tukang ojek itu.

Wahh luar biasa kawan,jika di tahun 2019 ada caleg dari Partai HANURA yang terpilih sebagai Anggota Dewan berarti pekerjaan yang kawan lakukan saat ini tidak sia sia”, jawab si tukang ojek itu.

Jawabku,mas kita manusia biasa hanya mengerjakan sesuatu,untuk memetik hasil dari apa yang kita kerjakan, itu yang Kuasa, sang pemilik kehidupan akan memberikannya kepada siapapun yang bekerja dengan tulus dan iklas maka HARAPANnya akan terwujud. CS

Kuawali perjalan pagi di sorong selatan

CHADOS-SANGKEK     Senin, September 03, 2018    
Kuawali aktifitas dengan  puji syukurku kepada Tuhan, karna masih di berinafas untuk melihat betapa indah dan besarnya kuasaNya yang menciptakan segala isinya dengan sangat sempurna.

Sorong Selatan terkenal dengan julukan Kota 1001 Sungai. Banyak tempat wisata yang bisa menjadi Destinasi saat berlibur. Hari ini aku mulai melangkahkan menuju persimpangan jalan untuk menunggu ojek. Saat berada di ojek, aku melihat kiri dan kanan banyak perubahan. Pemerintah Sorong Selatan ternyata sudah menata jalan dua jalur dari SMP2 Teminabuan sampai Kompleks kantor bupati sesna.
  
Terlihat masyarakat dan kendaraan bermotor sepanjang perjalan teminabuan s/d sesna. Mereka sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Aku melihat ada seorang remaja yang duduk di depan rumahnya ,sepertinya dia tidak pergi bersekolah hari ini, ada juga seorang bapak dengan noken dan kapak bawaannya, seperti ia mau pergi   di kebun. aku melihat juga seseorang memakai setelan baju ASN yang rapi sepertinya dia seorang yang bekerja di kantor Bupati sesna.

Asap kendaraan bermotor menhiasi perjalananku teminabuan s/d kompleks kantor Bupati sesna dipagi ini. Di persimpangan jalan kajase, aku melihat banyak pengguna kendaraan beroda dua ( ojek ) saling ngebuk  dan tidak memikirkan keselamatan penumpannya. Apapun yang menjadi alasan untuk ojek  seharusnya keselamatan penumpan dikedepankan.

Aku melihat lagi di persimpangan jalan manelek ada beberapa remaja usia sekolah ngoron disitu. Dari pagi sampai sore ternyata mereka menawarkan pasir milik mereka kepada pembeli yang mengunakan trek melintasi pandangan mereka. Kulihat mereka mengunakan celana pendek  dengan topi menutup kepala mereka. 

Aku merasa mereka saat membutuhkan uang dari hasil dagang pasirnya. Aku terhening  saat melihat mereka dan bertanya bagaimana jika dagang pasirnya tidak laris, dimana orang tua mereka, bagaimana dengan sekolahnya, pertanyaan itu sampai sekarang masih belum terjawab. Aku sangat menghargai usaha mereka dan mengucapkan terima kasih untuk Tuhan yang selalu memberikan kesehatan bagi mereka.

Di sepanjang perjalanan aku memperhatikan pemandangan pohon pohon  di pertigaan manelek s/d sesna. Sorong Selatan menyimpan banyak cerita buat pribadiku. Ya sebuah cerita. Tanpa sadar aku sudah melewati satu cerita hidup.

Aku sampai disebuah gedung. Spontan saja aku bersuara ,ojek singgah di tempat ini” suruhku ojek tersebut menghentikan laju motornya. Aku segera turun dan membayar sesuai jarak tempuh yang dilalui. Kupandangi sejenak bangunan itu.Bangunan yang kupandangi itu adalah kantor Bupati dengan berlahan aku mulai melangkah menyusuri setiap sudut bangunan ini. Aku melihat begitu banyak SKPD dan staf kantor ,terlihat juga masyarakat umum yang datang mengurus keperluan mereka. 

Sekedar menikmati petualan, aku berjalan kearah kantor pemberdayaan perempuan karna berada disekitar kantor ini terdapat sebuah warung untuk menikmati makan siangku. Aku mulai memesan menu. “Nasi telur dadarnya satu”, mintaku kepada ibu penjual itu. “Baik, silahkan ditunggu sebentar ya”, jawab si Ibu dengan ramahnya. Aku mulai mencari tempat duduk yang masih kosong. Aku duduk di antara para Pegawai kantoran.Tiba tiba si Ibu penjual tadi datang menyodorkan nasi telur dadar yang kupesan.“Silahkan dek,”kata si Ibu dengan begitu lembutnya.“Terima kasih Bu,” sambutku.

Sambil menikmati santapan makan siang, aku juga melihat suasana di warung makan yang semakin ramai pengunjun yang datang menikmati beberapa menu yang tersedia di warung ini. suasana siang ini sangat ramai. Ada yang berkumpul sambil bercerita persoalan kantornya, ada yang bercerita persoalan keluarga,lingkungan dan berbagai cerita lainnya.

Sambil beristirahat aku mulai mengambil sebuah Handphone dari dalam tasku. Aku kembali membuka galeri untuk melihat foto foto yang kuambil tadi. Aku berpikir sejenak dan memandangi foto demi foto. Ku pandangi semua foto dan mengucapkan semoga Sorong Selatan trus berkembang.

Setelah aku berpetualan di kompleks kantor Bupati Sesna, akhirnya aku pulang. “Terima kasih atas semua cerita hidup yang ku dapat saat ini.Perjalanan pulang, aku menyadari kenangan  bukan tentang bagaimana kita mengingat,tapi mewujudkannya dalam bentuk tulisan untuk mengabadikannya.CS

Follow

© 2011-2019 ROHAMA.
Designed by Bloggertheme9. Powered By Blogger | Published By Blogger Templates .