AKU DAN CERITAKU DI KAMPUNG SKENDI KABUPATEN SORONG SELATAN

CERPEN KISAH NYATA
AWAL CERITA AKU LALUI HIDUP DI SORONG SELATAN
 
Hampir tiap pagi dan sore terdengar bunyi betel ,teman teman dikampung skendi selalu berkata sedikit demi sedikit batu yang di pecah akan menjadi banyak. Seperti biasa aku bergegas mengambil,betel,martelu,linggis untuk melakukan aktifitas rutinritasku memecah batu.Di tengah sunyi Kampung Skendi sesekali terdengar teriakan anak anak kecil yang sedang bermain, aku juga melihat asap api sepertinya seorang petani sedang membersihkan kebunnya.
 

Aku memandang tempat di sekitarku. Semuanya terlihat asing bagiku,aku baru seminggu tinggal di kampung Skendi. 8 tahun aku hidup di kota study Jogjakarta untuk menampung segala ilmu. Bila melihat jauh ke belakang, banyak orang mengejar ilmu untuk mengubah nasip keluarga,kelompok, lingkungan di mana mereka berada

Kala itu kehadiranku di kampung Skendi hanya mengikuti ajakan seseorang wanita yang aku kenal di kota study jogjakarta, Seluruh masyarakat kampung skendi terherang melihatku, Di tahun 2012 untuk pertama kalinya aku tinggal di kampung Skendi, di Skendi aku tak mengenal masyarakat kampung ini. Untuk memulai kehidupan di Skendi aku tinggal di Goa Batu (Klawata) aku hanya menambah lima lembar daun sen untuk di jadikan dindin Goa batu ini.

Hari pertama memulai aktifitas untuk memecah batu, aku hanya memanaskan air panas dengan botol aqua sedang, jika di saat saat aku sedang memecah batu kelaparan menhampiri maka aku kembali memanaskan air dengan mengunakan botol mineral aqua. Beberapa menit air terasa hangat berlahan aku membuka mie instan dan memasukan air hangat itu kedalamnya.

Dua minggu bertahan dengan botol mineral  untuk kelangsungan hidup, batu hasil pecahanku terlihat banyak dan tak di sadari ada yang datang membelinya. Tanya si pembeli,berapa harga batu,800 ribu untuk satu ret jawabku.aku ambil 2 ret jawab si pembeli ini.

Sekarang aku sudah punya uang 1.600 ribu dan tak mau lagi aku harus mencari botol aqua yang di buang pemilik setelah menhabiskan airnya. Maka dengan uang yang ada aku membelikan peralatan masakku yang sangat aku butuhkan.  Selama 8 bulan hidup di Goa batu (klawata) jika malam hari aku hanya mengunakan lilin untuk menerangi disaat aku mau beristirahat dan jika lilinya terbakar habis maka suasa terlihat gelap.

Sebenarnya aku telah terjebak bersama orang yang tidak bermoral dan Ibadah hanya mereka jadikan topen untuk menutup wajah kemunafikan.

Dia adalah Seseorang wanita yang ku kenal di kota study Jogjakarta, terlihat lembut , santun dan taak beribadah. Di akhir tahun 2011 si wanita ini berangkat ke fakfak yang pada saat ini aku sedang pulang ke fakfak dari kota study Jogjakarta untuk bertemu keluargaku yang sudah lama tak berjumpa dengan mereka.

Si wanita ini mengunakan kapal laut sampai di fakfak dan hanya tiga hari, si wanita ini berkata ia ingin kembali ke sorong selatan dengan dalih pekerjaan. Akses fakfak –sorong untuk kapal laut sangat susah tapi terima kasih pada saat itu ada kapal dari arah selatan tujuan utara ( Timiki-kaimana-fakfak-sorong-bitun). Kapal laut itu masuk dan sandar di fakfak siang hari dan akan bertolak tujuan sorong pada soreh harinya.

Awalnya diriku tidak ada gambar bahwa akan ikut dengannya tujuan sorong, tapi terlihat penumpan kapal laut yang begitu padat penumpan, terlihat juga si wanita ini mau pinsang. aku kembali ke dalam kapal laut untuk menanyakan keadaannya. Tak lama kemudian ia berkata kamu ikut ke sorong dan nanti kembali ke fakfak.

Sesampai di sorong jam 3 pagi, wanita ini ia langsung ke keluarganya yang ada di malanu kampung kota sorong dan aku tinggal keliaran di pelabuhan sampai pagi jam 7 . ketiga di jam 9 pagi  wanita ini ia menelponku dan bertanya kamu dimana dan aku menjawabnya di pasar remu. si wanita ini ia berkata tunggu di pasar remu. Tidak lama kemudian wanita ini sampai dan ia berkata kita lanjut perjalanan ke sorong selatan.

Karna penasaran betuk kabupaten sorong selatan diriku mengikuti ajakannya, setibanya kita di sorong selatan soreh hari, aku di sambut dengan baik oleh ibu,bapa dan adik2nya. Keesokan hari jam 10 pagi ,rumah mereka di datanggi beberapa orang lalu duduk di depan ruang tamu dan menhadirkan aku duduk di sekitar mereka lalu berkata, karna kamu sudah masuk di rumah ini jadi harus membayar uang pintu. Terkejutlah aku dan hanya bertanya ada apa di balik semua ini.

Aku hanya satu minggu tinggal di rumah mereka sorong selatan, aku kembali ke fakfak dengan membawah pesan dari keluarga wanita ini. Di fakfak hanya dua minggu aku membawah ibu untuk kembali ke sorong selatan dan menyerahkan uang sepuluh juta,beberapa piring dan kain adat .

Hanya tiga hari di sorong selatan ibu dan diriku mengunakan mobil tujuan sorong dan selanjutnya ke fakfak. Karna uang yang kita bawah 30.000.000 . 10.000.000 di taruh untuk uang minang dan 2.000.000 di kasih untuk mereka yang masak pada saat itu. Dan sisanya di ibu membagikan untuk adik2nya yang sudah lama ibu tidak menjumpai mereka ,sejak bapa bertugas di fakfak.

Dengan sisa uang yang sedikit ibu dan diriku hanya duduk di belakang mobil L200 tujuan sorong. Sesampai di sorong dan langsung ke pelabuhan,si wanita ini menelpon, kamu harus kembali kesorong selatan”. disinilah awal kebodohanku.

Di sorong selatan aku tinggal bersama mereka sekeluarga, berlahan aku mulai mengenali beberapa orang di sekitar kampung. mereka berkata kamu tadak tau latar balakang wanita ini. Kataku tidak begitu. Lalu mereka berkata wanita ini ke fakfak karna dia ketahuan selingkuh dengan suami orang.

Karna bahasa yang telah merekan sampai ini terasa aku bertingkah mau gila, aku pedam semua rahasia ini dan di saat aku sendiri terasa mau bunuh diri karna kenapa kisah ini di alamatkan untuk diriku. Tapi aku terus tabah dan sesalu diam,tak lama kemudia wanita ini bersama ibunya dan keluarga berkelahi dengan adik dari ayahnya hanya karna tanaman. Pertenkaran ini mengakibatkan saling usir. Aku yang sementara itu lebih dulu ke sorong dan rencana pulang fakfak karna bertengkar dengan ibunya lantaran ibunya berkata anakku mau ke jarkata . Bagiku terasa aneh karna di sebutkan tempat yang aku sering kesana kalaitu aku masih di Jogjakarta.

Akhirnya aku di telpon wanita ini dan menceritakan semua kisah yang ia hadapi,akhirnya aku kembali ke sorong selatan. Sampai di sorong selatan aku tinggal di kampung wayer bersama adik dari ibuku.

Dari kampung wayer aku di tunjukan kampung skendi dimana letak lokasih rumah yang akan di bangun,truktur tanah kemiringan dan banyak batu batu besar. Dengan sabar aku memecah batu batu itu untuk menaruh fondasi rumah dan terus menerus memecah batu, akhirnya rumah itu berhasil di bangun dan lokasih tempat memecah batu itu terlihat luas.

Disaat aku sedang bekerja memecah batu, si wanita ini di luar sana berselingkuh dengan suami orang dari tahun ke tahun. Aku hanya bertahan hidup siang hari dengan mie rebus  tapi si wanita ini makan di warun bersama selingkuhannya. apa mau di kata ,takdirku harus aku jalani dan aku selalu berharap agar permisahan aku dan siwanita ini harus terjadi. Di tahun 2014 akhirnya kita berdua pisah dan tak sampai 4 bulan aku mendengar wanita telah hamil dari hasil selingkuhnya.

Wanita ini menyadari ia telah hamil dengan suami orang” ia melaporkan diriku di kantor polisi untuk segera tanda tangan surat permisahan dengan beberapan poin tertuat dalam surat pernyataan polisi. 1. Rumah menjadi milik si wanita dan apa yang telah aku kerjakan itu di bayar 20.000 .000 ( dua puluh juta ) sebagai ucapan terima kasih.

Jeritan hati hanya terdengar oleh alam. Segudang pertanyaan masih terpendam dan membekas sebuah noda yang tak bisa hilang. Sudah ada terlihat jawaban yang semakin menusuk hati sehingga timbul rasa  benci Jangankan setahun sampai kiamatpun aku menbencinya..

Aku tidak memilih menjadi sosok pemecah Batu, aku muak  mengikuti ajakan wanita ini. Kini 4 tahun wanita ini pergi meninggalkanku . Seluruh pengobarnan yang aku telah lakukan dibalas dengan duri , bahasa manisnya kala itu aku terpaksa mengubur semua mimpi, cita-cita, harapan dan semua yang ada di dalam imajinasi kecilku.
 

Wanita ini terlah pergi dan  aku bingung dengan berbagai pilihan, sementara  aku juga  orang baru di tempat ini dan tidak begitu dikenal, aku harus memilih antara kembali ke fakfak atau tetap menetap di kampung Skendi dalam keadaan sendiri.

Aku memang bukan seorang anak yang terlahir dari keluarga yang kaya raya, aku hanya anak kampung yang terlahir dari keluarga sederhana, ayahku guru dan  telah pension 8 tahun lalu, sedangkan Ibuku hanya sebagai ibu rumah tangga.

Sedih memang, tapi aku coba untuk ihklas menjalani kehidupan di negeri 1001 sunggai. Aku masih percaya akan sebuah keajaiban dan mukjizat yang datangnya dari Allah, aku berusahan sekuat tenaga dan terus berdoa. Agar aku bisa menunjukan pada dunia bahwa aku bisa berhasil dengan caraku sendiri.

Hanya orang takut yang bisa berani, keberanian melakukan sesuatu yang ditakutinya. Maka kita punya kesempatan untuk bersikap berani. Dalam mencapai keberhasilan yang tertunda.

Akhirnya sekarang aku tinggal seorang diri di Kampung Skendi Kabupaten Sorong Selatan.“Terima kasih atas semua cerita hidup yang ku dapat saat ini, aku menyadari kenangan bukan tentang bagaimana kita mengingat, tapi mewujudkannya dalam bentuk tulisan untuk mengabadikannya.CS
KUNJUNGI :GORESAN ANAK RANTAU

 

Kuawali perjalan pagi di sorong selatan



Kuawali perjalan pagi di sorong selatan



Kuawali aktifitas dengan  puji syukurku kepada Tuhan, karna masih di berinafas untuk melihat betapa indah dan besar kuasaNya menciptakan segala isinya dengan sangat sempurna.

Sorong Selatan terkenal dengan julukan Kota 1001 Sungai. Banyak tempat wisata yang bisa menjadi Destinasi saat berlibur. Hari ini aku mulai melangkahkan menuju persimpangan jalan untuk menunggu ojek. Saat berada di ojek, aku melihat kiri dan kanan banyak perubahan. Pemerintah Sorong Selatan ternyata sudah menata jalan dua jalur dari SMP2 Teminabuan sampai Kompleks kantor bupati sesna.

Terlihat masyarakat dan kendaraan bermotor sepanjang perjalan teminabuan s/d sesna. Mereka sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Aku melihat ada seorang remaja yang duduk di depan rumahnya ,sepertinya dia tidak pergi bersekolah hari ini, ada juga seorang bapak dengan noken dan kapak bawaannya, seperti ia mau pergi   di kebun. aku melihat juga seseorang memakai pakian ASN yang rapi sepertinya dia seorang yang bekerja di kantor Bupati sesna.


Asap kendaraan bermotor menhiasi perjalananku teminabuan s/d kompleks kantor Bupati dipagi ini. Di persimpangan jalan kajase, aku melihat banyak pengguna kendaraan beroda dua ( ojek ) saling ngebuk  dan tidak memikirkan keselamatan penumpannya. Apapun yang menjadi alasan untuk ojek  seharusnya keselamatan penumpan dikedepankan.



Aku melihat lagi di persimpangan jalan manelek ada beberapa remaja usia sekolah ngoron disitu. Dari pagi sampai sore ternyata mereka menawarkan pasir milik mereka kepada pembeli yang mengunakan trek melintasi pandangan mereka. Kulihat mereka mengunakan celana pendek  dengan topi menutup kepala mereka. Aku merasa mereka saat membutuhkan uang dari hasil dagang pasirnya. Aku terhening  saat melihat mereka dan bertanya bagaimana jika dagang pasirnya tidak laris, dimana orang tua mereka, bagaimana dengan sekolahnya, pertanyaan itu sampai sekarang masih belum terjawab. Aku sangat menghargai usaha mereka dan mengucapkan terima kasih untuk Tuhan yang selalu memberikan kesehatan bagi mereka.
 

Di sepanjang perjalanan aku memperhatikan pemandangan pohon pohon  di pertigaan manelek s/d sesna. Sorong Selatan menyimpan banyak cerita buat pribadiku. Ya sebuah cerita. Tanpa sadar aku sudah melewati satu cerita hidup.

Aku sampai disebuah gedung. Spontan saja aku bersuara ,ojek singgah di tempat ini” suruhku ojek tersebut menghentikan laju motornya. Aku segera turun dan membayar sesuai jarak tempuh yang dilalui. Kupandangi sejenak bangunan itu.Bangunan yang kupandangi itu adalah kantor Bupati dengan berlahan aku mulai melangkah menyusuri setiap sudut bangunan . Aku melihat begitu banyak SKPD dan staf kantor ,terlihat juga masyarakat umum yang datang mengurus keperluan mereka.

Sekedar menikmati petualan, aku berjalan kearah kantor pemberdayaan perempuan yang berada disekitar kantor Bupati .ada sebuah warung untuk aku menikmati makan siangku. Aku mulai memesan menu. “Nasi telur dadarnya satu”, mintaku kepada ibu penjual itu. “Baik, silahkan ditunggu sebentar ya”, jawab si Ibu dengan ramahnya. Aku mulai mencari tempat duduk yang masih kosong. Aku duduk di antara para Pegawai kantoran.Tiba tiba si Ibu penjual tadi datang menyodorkan nasi telur dadar yang kupesan.“Silahkan dek,”kata si Ibu dengan begitu lembutnya.“Terima kasih Bu,” sambutku.

Sambil menikmati santapan makan siang, aku juga melihat suasana di warung makan yang semakin ramai pengunjun yang datang menikmati beberapa menu yang tersedia di warung ini. Suasana siang ini sangat ramai, ada yang berkumpul sambil bercerita persoalan kantornya, ada yang bercerita persoalan keluarga,lingkungan dan berbagai cerita lainnya.

Sambil beristirahat aku mulai mengambil sebuah Handphone dari dalam tasku. Aku kembali membuka galeri untuk melihat foto foto yang kuambil tadi. Aku berpikir sejenak dan memandangi foto demi foto. Ku pandangi semua foto dan mengucapkan semoga Sorong Selatan trus berkembang.

Setelah aku berpetualan di kompleks kantor Bupati Sesna, akhirnya aku pulang. “Terima kasih atas semua cerita hidup yang ku dapat saat ini.Perjalanan pulang, aku menyadari kenangan  bukan tentang bagaimana kita mengingat,tapi mewujudkannya dalam bentuk tulisan untuk mengabadikannya.CS

Keberhasilan Sebuah Betel di Kampung Skendi Pu Cerita

C E R P E N
Keberhasilan Sebuah Betel di Kampung Skendi Pu Cerita

Hampir tiap pagi dan sore terdengar bunyi betel ,teman teman dikampung skendi selalu berkata sedikit demi sedikit batu yang di pecah akan menjadi banyak. Seperti biasa aku bergegas mengambil,betel,martelu,linggis untuk melakukan aktifitas rutinritasku memecah batu.Di tengah sunyi Kampung Skendi sesekali terdengar teriakan anak anak kecil yang sedang bermain, aku juga melihat asap api sepertinya seorang petani sedang membersihkan kebunnya.

Aku memandang tempat di sekitarku. Semuanya terlihat asing bagiku,aku baru seminggu tinggal di kampung Skendi. Delapan tahun aku hidup di kota study Jogjakarta untuk menampung segala ilmu. Bila melihat jauh ke belakang, banyak orang mengejar ilmu untuk mengubah nasip keluarga,kelompok, lingkungan di mana mereka berada

Kala itu kehadiranku di kampung Skendi hanya mengikuti ajakan seseorang teman yang aku kenal di kota study jogjakarta, Seluruh masyarakat kampung skendi terherang melihatku, Di tahun 2012 untuk pertama kalinya aku tinggal di kampung Skendi, di Skendi aku tak mengenal masyarakat kampung ini. Untuk memulai kehidupan di Skendi aku tinggal di Goa Batu (Klawata) aku hanya menambah lima lembar daun sen untuk di jadikan dindin Goa batu ini.

Hari pertama memulai aktifitas untuk memecah batu, aku hanya memanaskan air panas dengan botol aqua sedang, jika di saat saat aku sedang memecah batu kelaparan menhampiri maka aku kembali memanaskan air dengan mengunakan botol mineral aqua. Beberapa menit air terasa hangat berlahan aku membuka mie instan dan memasukan air hangat itu kedalamnya.

Dua minggu bertahan dengan botol mineral  untuk kelangsungan hidup, batu hasil pecahanku terlihat banyak dan tak di sadari ada yang datang membelinya. Tanya si pembeli,berapa harga batu,800 ribu untuk satu ret jawabku.aku ambil dua ret jawab si pembeli ini.

Sekarang aku sudah punya uang 1.600 ribu dan tak mau lagi aku harus mencari botol aqua yang di buang pemilik setelah menhabiskan airnya. Maka dengan uang yang ada aku membelikan peralatan masakku yang sangat aku butuhkan.  Selama 8 bulan hidup di Goa batu (klawata) jika malam hari aku hanya mengunakan lilin untuk menerangi disaat aku mau beristirahat dan jika lilinya terbakar habis maka suasa terlihat gelap. 

Sebenarnya aku telah terjebak bersama orang yang tidak bermoral dan Ibadah hanya mereka jadikan topen untuk menutup wajah kemunafikan.

Jeritan hati hanya terdengar oleh alam. Segudang pertanyaan masih terpendam dan membekas sebuah noda yang tak bisa hilang. Sudah ada sebuah jawaban yang semakin menusuk hati sehingga timbul rasa  benci yang  mendalam.

Aku tidak memilih menjadi sosok pemecah Batu, aku muak  mengikuti ajakan seseorang yang 4 tahun  telah pergi meninggalkanku . Seluruh pengobarnan yang aku telah lakukan dibalas dengan duri , bahasa manisnya kala itu aku terpaksa mengubur semua mimpi, cita-cita, harapan dan semua yang ada di dalam imajinasi kecilku.

Aku ditinggal pergi seseorang saat itu aku dibuat bingung dengan berbagai pilihan, sementara  aku juga  orang baru di tempat ini dan tidak begitu dikenal, aku harus memilih antara kembali ke fakfak atau tetap menetap di kampung Skendi dalam keadaan sendiri. 

Aku memang bukan seorang anak yang terlahir dari keluarga yang kaya raya, aku hanya anak kampung yang terlahir dari keluarga sederhana, ayahku guru dan  telah pension 8 tahun lalu, sedangkan Ibuku hanya sebagai ibu rumah tangga. 

Sedih memang, tapi aku coba untuk ihklas menjalani kehidupan di negeri 1001 sunggai. Aku masih percaya akan sebuah keajaiban dan mukjizat yang datangnya dari Allah, aku berusahan sekuat tenaga dan terus berdoa. Agar aku bisa menunjukan pada dunia bahwa aku bisa berhasil dengan caraku sendiri.

akhirnya sekarang aku tinggal seorang diri di Kampung Skendi Kabupaten Sorong Selatan.“Terima kasih atas semua cerita hidup yang ku dapat saat ini, aku menyadari kenangan bukan tentang bagaimana kita mengingat, tapi mewujudkannya dalam bentuk tulisan untuk mengabadikannya.CS

Harapan Kecilku di Kabupaten Sorong Selatan

C E R P E N
Harapan Kecilku di Sorong Selatan

Aku lalui aktifitas sebagai seorang perantau dengan melakukan pekerjaan yang halal untuk kebahagiaan kedua orang tua dan sanak saudara yang ada di Fak Fak dan kaka perempuan di kota study Jogjakarta.

Sesaat aku menatap kejalan untuk mengawali langkahku, lalu aku berjalan kearah persimpangan jalan Skendi untuk menumpangi sebuah ojek. Teriakku ojek, tukang ojek itu menguragi laju motornya dan berhengti di depanku dan berkata kawan tujuan kemana, wermit mas, jawabku”.

Membutuhkan wakut lima menit perjalanan skendi –warmit, aku berkata mas berhengti di depan gedung itu. Spotan tukang ojek itu berkata,di depan sekretariat Partai HANURA ,ia mas jawabku”.

Ketika aku membuka tas kecilku yang sering aku bawah untuk mengambil 5.000 mau membayar ojek sesuai jarak tempuh skendi-wermit,tukang ojek itu bertanya kawan kapan pemilihan DPRD,berapa jumlah Caleg dari partai HANURA,kamu di partai kerjaannya sebagai apa”

Hanya sekilas aku berkata,mas nanti di tahun 2019 bulan april baru di laksanakan pemilu Presiden ,DPR ,DPD,DPRD. Di Partai HANURA ada 20 caleg yang sudah di nyatakan lolos dan ke 20 caleg ini terbagi di empat dapil,dapil itu artinya apa kawan,tanya si tukang ojek itu dengan rasa penasaran. Daerah Pemilihan mas jawabku,diwilayah Teminabuan itu Dapil 1,diwilayah Sawiat Raya itu Dapil 2,diwilayah Imekko itu Dapil 3,diwilayah Moswaren itu Dapil 4.


Jadi dapil 1 itu jumlah calegnya sesuai kuota kursi 8 orang terdiri dari 5 laki laki dan 3 perempuan, dapil 2 itu jumlah calegnya sesuai kuota kursi 3 orang terdiri dari 2 laki laki dan 1 perempuan, dapil 3 itu jumlah calegnya sesuai kuota kursi 6 orang terdiri dari 4 laki laki dan 2 perempuan, dapil 4 itu jumlah calegnya sesuai kuota kursi 3 orang terdiri dari 2 laki laki dan 1 perempuan.

Kawan di partai HANURA posisi kerjanya sebagai apa”,Tanya mas tukang ojek ini yang kedua kalinya”. Aku bekerja sifatnya membantu untuk memasukan berkas caleg pada aplikasi sistim informasi calon (silon) dan menyiapkan berkas fisiknya untuk pembuktian di KPU,jawabku pada si tukang ojek itu.

Wahh luar biasa kawan,jika di tahun 2019 ada caleg dari Partai HANURA yang terpilih sebagai Anggota Dewan berarti pekerjaan yang kawan lakukan saat ini tidak sia sia”, jawab si tukang ojek itu.

Jawabku,mas kita manusia biasa hanya mengerjakan sesuatu,untuk memetik hasil dari apa yang kita kerjakan, itu yang Kuasa, sang pemilik kehidupan akan memberikannya kepada siapapun yang bekerja dengan tulus dan iklas maka HARAPANnya akan terwujud. CS

Kuawali perjalan pagi di sorong selatan

Kuawali aktifitas dengan  puji syukurku kepada Tuhan, karna masih di berinafas untuk melihat betapa indah dan besarnya kuasaNya yang menciptakan segala isinya dengan sangat sempurna.

Sorong Selatan terkenal dengan julukan Kota 1001 Sungai. Banyak tempat wisata yang bisa menjadi Destinasi saat berlibur. Hari ini aku mulai melangkahkan menuju persimpangan jalan untuk menunggu ojek. Saat berada di ojek, aku melihat kiri dan kanan banyak perubahan. Pemerintah Sorong Selatan ternyata sudah menata jalan dua jalur dari SMP2 Teminabuan sampai Kompleks kantor bupati sesna.
  
Terlihat masyarakat dan kendaraan bermotor sepanjang perjalan teminabuan s/d sesna. Mereka sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Aku melihat ada seorang remaja yang duduk di depan rumahnya ,sepertinya dia tidak pergi bersekolah hari ini, ada juga seorang bapak dengan noken dan kapak bawaannya, seperti ia mau pergi   di kebun. aku melihat juga seseorang memakai setelan baju ASN yang rapi sepertinya dia seorang yang bekerja di kantor Bupati sesna.

Asap kendaraan bermotor menhiasi perjalananku teminabuan s/d kompleks kantor Bupati sesna dipagi ini. Di persimpangan jalan kajase, aku melihat banyak pengguna kendaraan beroda dua ( ojek ) saling ngebuk  dan tidak memikirkan keselamatan penumpannya. Apapun yang menjadi alasan untuk ojek  seharusnya keselamatan penumpan dikedepankan.

Aku melihat lagi di persimpangan jalan manelek ada beberapa remaja usia sekolah ngoron disitu. Dari pagi sampai sore ternyata mereka menawarkan pasir milik mereka kepada pembeli yang mengunakan trek melintasi pandangan mereka. Kulihat mereka mengunakan celana pendek  dengan topi menutup kepala mereka. 

Aku merasa mereka saat membutuhkan uang dari hasil dagang pasirnya. Aku terhening  saat melihat mereka dan bertanya bagaimana jika dagang pasirnya tidak laris, dimana orang tua mereka, bagaimana dengan sekolahnya, pertanyaan itu sampai sekarang masih belum terjawab. Aku sangat menghargai usaha mereka dan mengucapkan terima kasih untuk Tuhan yang selalu memberikan kesehatan bagi mereka.

Di sepanjang perjalanan aku memperhatikan pemandangan pohon pohon  di pertigaan manelek s/d sesna. Sorong Selatan menyimpan banyak cerita buat pribadiku. Ya sebuah cerita. Tanpa sadar aku sudah melewati satu cerita hidup.

Aku sampai disebuah gedung. Spontan saja aku bersuara ,ojek singgah di tempat ini” suruhku ojek tersebut menghentikan laju motornya. Aku segera turun dan membayar sesuai jarak tempuh yang dilalui. Kupandangi sejenak bangunan itu.Bangunan yang kupandangi itu adalah kantor Bupati dengan berlahan aku mulai melangkah menyusuri setiap sudut bangunan ini. Aku melihat begitu banyak SKPD dan staf kantor ,terlihat juga masyarakat umum yang datang mengurus keperluan mereka. 

Sekedar menikmati petualan, aku berjalan kearah kantor pemberdayaan perempuan karna berada disekitar kantor ini terdapat sebuah warung untuk menikmati makan siangku. Aku mulai memesan menu. “Nasi telur dadarnya satu”, mintaku kepada ibu penjual itu. “Baik, silahkan ditunggu sebentar ya”, jawab si Ibu dengan ramahnya. Aku mulai mencari tempat duduk yang masih kosong. Aku duduk di antara para Pegawai kantoran.Tiba tiba si Ibu penjual tadi datang menyodorkan nasi telur dadar yang kupesan.“Silahkan dek,”kata si Ibu dengan begitu lembutnya.“Terima kasih Bu,” sambutku.

Sambil menikmati santapan makan siang, aku juga melihat suasana di warung makan yang semakin ramai pengunjun yang datang menikmati beberapa menu yang tersedia di warung ini. suasana siang ini sangat ramai. Ada yang berkumpul sambil bercerita persoalan kantornya, ada yang bercerita persoalan keluarga,lingkungan dan berbagai cerita lainnya.

Sambil beristirahat aku mulai mengambil sebuah Handphone dari dalam tasku. Aku kembali membuka galeri untuk melihat foto foto yang kuambil tadi. Aku berpikir sejenak dan memandangi foto demi foto. Ku pandangi semua foto dan mengucapkan semoga Sorong Selatan trus berkembang.

Setelah aku berpetualan di kompleks kantor Bupati Sesna, akhirnya aku pulang. “Terima kasih atas semua cerita hidup yang ku dapat saat ini.Perjalanan pulang, aku menyadari kenangan  bukan tentang bagaimana kita mengingat,tapi mewujudkannya dalam bentuk tulisan untuk mengabadikannya.CS

KISAH NYATAku, PELAKOR SEJATI BERUJUNG DUKA



Terjebak dalam lingkungan orang yang tidak bermoral dan Ibadah hanya mereka jadikan topen untuk menutup wajah kemunafikan.

Jeritan hati hanya terdengar oleh alam. Segudang pertanyaan masih terpendam dan membekas sebuah noda yang tak bisa hilang. Sudah ada sebuah jawaban yang semakin menusuk hati sehingga timbul rasa  benci yang  mendalam.

Aku tidak memilih menjadi sosok pemecah Batu, aku muak jika dulu berada bersama dia  tak berhati. Kuliah aku tinggalkan dan juga jauh dari sanak saudara, hanya karna ajakan seseorang wanita yang tak punya moral dan kemampuan. Kebencianku padanya Jangankan setahun sampai kiamatpun aku menbencinya.

Kehidupan siwanita ini terlihat kokoh dan kuat, namun sebenarnya sudah hancur dan berlahan akan rapuh semangat hidupnya karna rasa egois telah menerkap hingga martabatnya sudah tak bernilai lagi.
Sempitnya pola pikir dan rasa egois yang mendalam, membuat siwanita ini terjerumus pada liarnya kehidupan ( Petualan hati ). Hal biologis ia habiskan untuk menghiasi masa mudanya.


Mungkin karena pengaruh lingkungan yang baru berkembang sehingga kejadian pelakor ini rata-rata terjadi di tempat ini, tua ataupun muda. Tempat ini seperti lingkaran kegelapan yang tak bekujung terang.

Kejarkan sesuatu seorang diri tapi perjuangan itu dibalas dengan duri. Aku hanya dijadikan jemuran kemunafikannya kalaitu”. Di rumah siwanita ini terlihat baik layaknya anak pendeta, tapi diluar berubah sikapnya menjadi sang pelakor sejati.

Setelah ia pergi 4 tahun lalu dengan segala kemunafikan dirinya, maka saat ini aku mulai menata kembali kehidupanku untuk menjadi sosok yang berdiri kokoh ditenggah tenggah badai dan akan berhasil dengan caraku sendiri. CS

CERPEN KISAH ONLINE DI WARNET NEXT KABUPATEN SORONG SELATAN

CERPEN KISAH ONLINE DI WARNET NEXT KABUPATEN SORONG SELATAN

TEMINABUAN-Orang sering mengatakan ‘Bermimpilah setinggi langit’,Kata ini yang selalu memberikan harapan untuk saya tetap berusaha’ saya adalah seseorang anak Kampung  yang tak pernah berhenti untuk bermimpi. Bagi saya, mimpi itu hak setiap orang. Tapi Teman teman sering merasa lucu dan bertanya, untuk apa bermimpi lagi; kamu saja sudah gagal , disini bukan gagal sekolah maka kita juga gagal dalam mendapatkan  ilmu karna semua tempat pasti ada ilmunya yang terpenting saya selalu berteman dengan internet untuk menambah ilmu. Karena pada dasarnya internet merupakan jendela ilmu.

Malam  ini saya melakukan penelusuran untuk menambah ilmu di warnet Next kabupaten Sorong Selatan. Saya mengunjungi beberapa situs dengan klik kiri lalu save as , setelah lebih dari lima jam saya lalui aktifitas dunia maya, walaupun biaya warnet satu jam 10 ribu. Tapi tidak menghalangi saya untuk selalu online mengunakan internet dengan fasilitas komputer. Bagi saya online mengunakan komputer jauh lebih berguna ketimbang mengunakan Handphone, karna saya sendiri menyukai dunia postingan di blog.

Saat saya masih di warnet Next saya sesekali mengunjungi facebook di rum obrolan banyak anak papua yang online mengunakan Handphone. Saya sendiri tidak terlalu mengerti bagaimana rasanya online mengunakan fasilitas Handphone. Ketika saya membaca isi disetiap situs yang saya kunjungi yang pasti saya save as untuk dibawah pulang lalu membacanya dalam dunia ofline.

Di warnet next kabupaten sorong saat online nampak ada yang memperhatikan saya. secara spontan Ia bertanya; “kamu suka online di warnet, online malam hari cari apa” saya memperhatikan orang ini sangat detail. Setelah lelah memperhatikan orang ini;. sayang menjawab kawan Sekolah belum tentu kamu dikatakan berilmu atau bisa melalukan sesuatu pekerjaan baik pekerjaan di kantor atau dimana saja yang kamu lakukan perkerjaan dengan kajian sekolah itu. Karena sekolah boleh berakhir tapi kata membaca tak pernah berakhir sekalipun kita berada di kampung. Kita banyak membaca secara otomatis banyak pula ilmu yang kita update setiap saat, dengan memanfaatkan sarana internet yang ada di warnet ini apa lagi di kabupaten 1001 sunggai ini tidak ada perpustakaan daerah dan surat kabar yang di cek dan mudah didapat.

Untuk punya sejuta Ilmu salah satu caranya kita harus menghabiskan waktu dan uang hanya untuk membaca, di sekolah kita pasti mengeluarkan banyak uang untuk bisa mendapatkan ilmu tapi di warnet cumu 10-50 ribu kamu sudah mendapatkan ilmu yang berlipat ganda. Apa lagi jika salah satu mata pelajaran yang gurunya galak, kita pasti bolos sekolah. Tapi guru paman google tidak galak dan jawabannya pasti tepat sasaran sesuai apa yang kamu tanya”.

Akhirnya sayapun pamit pulang ke arah kampun skendi, karena, malam semakin larut dan terlihat 15-30 menit baru terlintas ojek yang lewat di kompleks kampung wermit tempat dimana warnet itu berada. Saya melangkah pulang tapi selalu yakin bahwa suatu saat nanti saya akan menjadi seseorang seperti yang saya mimpikan selama ini.

Waktu begitu cepat berlalu , saya yang dulu tinggal bersama kegagalan sekarang berlahan mulai berhasil. Dulu hanya berteman dengan batu,tanah,betel dan martelo. Hanya dipandang sebagai si pemecah batu.  Itulah kehidupa saya yang pernah saya lalui, tapi apapun yang kita kerja terlebih dahulu kita lebih mengenal diri kita agar setiap bahasa ejekan yang dialamatkan untuk kita. Maka kita akan selalu tersenyum dan tetap berusaha untuk ke arah hidup yang lebih baik.CS


Followers